Posts

Semesta Bekerja?

Dua hari lalu, berlatar hujan, sendu ditengah rintik yang menderas, ada yang menangisi kehidupan.
Bertanya bagaimana semesta bekerja dan membiarkannya merasa jatuh diantara pengharapan?
Seminggu lalu, ia menangis juga, dengan alasan lain, kerinduan yang membuatnya iri dengan sekitar.
Lagi-lagi bertanya bagaimana semesta bekerja dan menjadikan diri semakin sepi di tengah kesepian?
Mengapa semesta tak mengajarinya berbahagia dalam sedihnya? Kata orang "ambil hikmahnya".
Mengapa semesta membiarkannya menangisi dua hal yang berpola sama? Kata orang "harus terima".
Maka semesta, surat ini hendak menanyaimu,
Namun tak akan pernah menyalahkanmu.

A Playlist To Remember (1)

Image
Here's your kinda Sunday-(too) morning-playlist.
Glenn Fredley - Terserah

Tangga - Cinta Begini

Rossa - Tegar

Broery Marantika Ft. Dwi Yull - Jangan Ada Dusta Diantara Kita

Chrisye - Kala Cinta Menggoda

Reza Artamevia - Biar Menjadi Kenangan

Rio Febrian - Bukan Untukku

Yovie & Nuno Ft. Audy - Janji Diatas Ingkar


Geisha - Seandainya Aku Punya Sayap

Indonesian Voices - Rumah Kita


Separuh Perjalanan Dikuatkan - Betapa Berartinya Sebuah Surat

Image
Setengah tahun lalu ketika aku sempat memutuskan untuk menghentikan langkah,
Satu surat mengubah.

Surat itu, mengucapkan terima kasih atas kerja kerasku,
Tapi aku bertanya-tanya,
Kerja keras apa sementara aku kurang dimana-mana.

Surat itu meminta maaf,
Atas anggapan telah menyusahkan,
Membuat kesal,
Atau karena tidak pernah mengerti,
Dan apabila demikian,
Maka aku telah lama memaafkannya.

Surat itu berbicara,
Jauh lebih dalam dari apa yang penulisnya sering sampaikan secara langsung,
Bagaimanapun,
Kata-katanya merubah dunia,
Dan mengantarkanku pada separuh perjalanan.

Kalau tidak dikuatkan,
Barangkali sejak tuntutan-tuntutan diluar harap,
Dan dibalik suara-suara sumbang memekakkan telinga,
Mungkin,
Aku,
Memilih,
Menyerah.

Maka, untuk membalas surat dibawah ini,
Terima kasih!


Sajak Tiga Bait - Langit Masih Angkuh

Derai itu harusnya luruh tak peduli waktu
Sambil bercerita tentang dingin
Tapi ia masih enggan
Maka mundurlah
Dan tunggu

Tetesannya riuh namun berangsur menghilang
Sesekali tertimbun suara yang lebih gaduh
Mungkin ia masih menimbang
Maka mundurlah
Dan tunggu

Sorotnya gelap dan ia terdiam
Karena dalam keangkuhannya
Ia seperti langit di musim penghujan
Sesekali hujan, mendung,
Dan yang pasti, ia tak pernah hangat

Selamat Datang April

Kepada; April
Dari bermacam-macam emosi yang benar-benar menguras hati,
Kekecewaan mengawali, membuka dan menjadikanmu tak semenarik sebelumnya,
Aku baru menyadari,
Semakin bertambahnya usia,
Semakin banyak pula pandangan yang melihat dari sisi buruk saja,
Melupakan kebaikan, yang bagaimanapun susah payah diupayakan,
Ya, ini keluhan
Ya, ini mewakilkan rasa tidak terima
Belajar, berharap berproses dan tumbuh,
Ternyata tidak semudah itu,
Karena akan ada suara yang tetap menyalahkan,
Akan tetap ada anggapan yang tidak sepantasnya.
Maka, April...
Izinkan aku belajar merelakan,
Tidak semua orang menyukai apa yang aku tempuh
Tidak semua orang akan mengapresiasi usahaku
Aku
Belajar
Meluruskan niat
Dan menerima

Kepada April,
Semoga celaannya selaras dengan usahanya memperbaiki diri
Semoga dia dan penglihatannya
Tak selamanya buram dan penuh kabut kebencian



-Ditulis setelah seorang teman mengisahkan pendengarannya tentangku, dari seseorang, kepadaku.

Ujung Bulan Maret; Besok!

Besok, 31 Maret.
Besok, ujung perjalanan bulan Maret.
Sementara Maret menepi,
April siapkan layar terkembang.

Besok, adikku berulang tahun.
Besok, genap usianya 13 tahun.
Sepenggal doa ini,
Biarlah tersurat untuk dirinya.

Untuk Adikku, Lintang.
Selamat ulang tahun, sayang.
Terimakasih 13 tahun ini telah menyabarkan hati untuk menerima aku sebagai kakakmu.

Untuk tahun-tahun kedepan,
Semoga...
Hidupmu berbalut kebahagiaan
Rizki yang tercukupkan tanpa putus
Pencapaian yang menbanggakan untuk dirimu sendiri, dan untuk kami keluargamu

Mungkin kami kurang dalam mendengar inginmu,
Namun Allah Maha Tahu
Semoga harapmu terkabul
Impianmu tercapai

Aku, sebagai kakakmu,
Akan selalu ada untuk membimbingmu,
Sekaligus mendorongmu untuk maju.
Sayangku selalu untukmu!



- Mba Vita

Tentang Sebuah Buku; Pada Tepi Hari Itu - Soorjo Sani S.

Image
Aku ingin menjemput awan
Tempat dulu ku selipkan perangaimu
Saat hujan tiba dapat kusentuh tangismu, tawamu
Akan kubungkus awan itu dengan rindu
Yang engkau endapkan pada hujan

- Kurindukan -

Mas Soorjo (Karena bagi saya, tidak ada yang 'tua' dalam sastra. Bahkan dirimu juga diriku menyebut Chairil Anwar tanpa awalan Mas, atau Pak), menuangkan tulisannya dengan apiknya sehingga bagi saya yang membaca tulisannya, saya dapat mengontruksikan maksud yang hendak disampaikan tanpa menawar. Mas Soorjo seperti hendak menceritakan kerinduan yang teramat hingga dirinya rela datang menjemput awan, awan yang menyelipkan wajah sosok yang dirindukan. Ia menggambarkan hujan menjadi sebuah keinginan, dan akupun bisa merasakan penantiannya terhadap hujan, agar hujan itu dapat mengingatkannya pada tawa dan tangis sosok yang dirindukannya. Semoga kerinduanmu terbayar, Mas. Terimakasih, tulisanmu memaknai hujanku pagi tadi.