MELAMAR KEMATIAN

Aku melihat itu, seberkas gambaran maya yang aku yakini didalamnya ada damai untuk mengganti ketidakdamaianku.
Aku mau kesana, apapun itu jadinya, sekalipun itu dengan merangkak kesusahan.
Aku menjejalkan segenap sisa asa yang masih ada.

***
Senja itu jadi pertanda, betapa singkat perputaran bumi. Silih bergantinya pergantian warna langit yang menaungi jutaan umat manusia adalah keriilan tentang cepatnya waktu berlalu, setidaknya untuk jutaan orang diantara jutaan orang pula.
Aku menatap langit kala itu, betapanya condong menggelap. Satu pertanyaan tak butuh jawaban terlintas. "Mengapa senja selalu tampak begitu?"
Tampak begitu? Ya, tampak damai tapi diam-diam ricuh disini, di pikiran dan di hati. Akibat tidak pernahnya ada kesiapan untuk menghadapi esok, akupun melamar kematian.

Aku tak ubahnya jalan setapak di dekat jalan raya, merasa kecil dan bukan apa-apa, sekalipun ku dengar "Tidak apa menjadi jalan setapak. Asalkan jalan setapak yang mengantarkan ke mata air", tapi sayangnya aku bukan pengantar perjalanan menuju mata air, melainkan sebaliknya, air mata~

Dunia ini keras dan aku tidak perlu menjelaskan singkat seberapa kerasnya, karena aku punya penjelasan yang panjang dan membosankan~

Sebut saja aku ini 'aku', terlahir seperti normalnya kau lihat manusia, bertubuh dan bernyawa. Menghirup udara yang tak murni oksigen, berpijak di tanah yang disebut-sebut tanah merah, menetap disebuah rumah dengan dinding triplek dan atap ternit.
Kemewahan jauh dariku, tapi kesengsaraan selalu mendekatiku.
Dia bak kekasih yang tak rela aku berganti status dari 'sengsara' menjadi 'sedikit bahagia'.
Dia menguntitku kemanapun, sampai aku rasa tak ada tempat nyaman sekalipun itu kamar mandi, toh memang manusia sekalipun hanya sekali, pernah kan merasa menderita saat di kamar mandi?
Bahkan otakkupun sendiri bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi dari sengsara. Kalau boleh ku namai, kuberi nama "SengsaraPacarnyaAkuDariDuluYangSlaluSetia".
Kau mau tau detailnya apa yang aku sebut sengsara?
Aku menetas lalu terinjak oleh saudaraku sendiri, indukku melenggang bersama yang lain dan meninggalkan seonggok ragaku.
Aku lari ke sudut yang kau bisa sebut kota, tapi jaminan rasa bahagia tidak pernah sekali saja hinggap.
Aku melihat senja terus saja sama tiap pergantiannya tahun, gelap karena hanya mengintip dari lubang triplek yang tak layak kau sebut jendela, menjelma seolah kusen tapi nyatanya tidak pernah ada kusen kayu bertenger disana.
Aku habiskan setidaknya separuh waktu senja untuk menatap kekosongan yang mencekam tapi selalu membuatku tertarik.
Aku buronan, dan aku siap melamar kematian.
Mau mendengar apa itu melamar kematian?
Aku habiskan belasan tahun menjadi seseorang yang jauh dari kata manusia yang manusiawi.
Aku mencuri, merampok, memeras. Menggunakan uang mereka yang ku rampok sepertiganya untuk hidup, sepertiga untuk ku sumbangkan, dan sepertiga kusimpan.
Lalu ku mata-matai korbanku 3 kali dalam 3 minggu, yang sama artinya dengan setiap minggu.
Aku hanya akan mencuri dengan sistem berperiode, misal setelah aku merampok atau apalah itu, aku akan bekerja yang lain yang bisa kita sebut halal.
Sambil menyempatkan memata-matai korbanku tentunya.
Lalu uang upah bekerja halalku kukumpulkan, ku hitung dan ku tambahkan sepertiga hasil curian.
Bila kembali utuh, tak menunggu masa itu usai akan kukembalikan.
Begitu selanjutnya aku memulai lagi.
Apa yang kau fikir? Dengar ! Orang miskin tak tau mau kemana untuk meminjam uang sekadar untuk makan. Orang miskin susah bukan main untuk menyumbang orang lain, orang miskin hanya 'pegang' uang masa-masa tertentu.
Kau jangan ikuti caraku, tak ada bagusnya sama sekali.
Sedekah harusnya ikhlas yang pernah kudengar. Jadi aku sudah menyalahi aturan kan?
Tapi mau bagaimana? Ini caraku, pilihan untuk hidupku.
Sampai seseorang tak terima telah merasa ku permainkan. Melaporkanku karena tindakanku mencuri kepada pihak berwajib yaitu polisi.
Aku buron ! Fase terbesar dan terberat. Lelah sekali uber-uberan dengan polisi. Dan aku membiarkan tinggal disini, sebuah bangunan tak layak huni yang dulu pernah ku tinggali lalu ku tinggal.
Aku biarkan tubuh keringku sekarang berdiam disini, makan dari segala cara yang kutempuh sehalal-halalnya.
Nah, dan sekarang tubuh keringku semakin parah. Segala sakit tak mampu ku halau, kalau telah dekat masa, itu adalah mati yang pasti.
Sebelum itu, ku lamar kematianku agar mau lekas menerimaku, bukannya terburu-buru, tapi aku mau bersopan santun padanya yang telah jauh-jauh mau menemuiku.
Dalam doa yang kubisa semampu dan dengan segala kebingungan. Ku ucap,
Inilah masa itu, masa melamar kematian dan hendak hati menunggu kedatangannya.
Aku tak mau ada salah yang belum ku mintai pengampunan, jadi aku minta maaf, kalau memang sebutan yang tepat untukku adalah orang keji, memang itulah aku.
Tapi setidaknya sekali ucap aku dengan penjahat yang sempat bertaubat, kalau berkenan~

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak