Putih diatas Hitam

Terlalu sering kalian mendengar “Hitam diatas putih”, dan itu terlalu biasa dan tak lagi menarik,
Tengok cerita ini yang adalah kebalikan dari penyusunan kalimat itu, dengan cerita yang sama sekali tak tersangkut pautkan.
Inilah “Putih diatas Hitam” …

***

"Taubat Nasuha, InsyaAllah ada pengampunan untuk khilaf dan dosa kita"Terang seorang Kyai yang sedang duduk gaya bersila di depan santri-santrinya,santriwati-santriwati di deretan belakang yang terpisahkan dengan sekat mengangguk angguk tak jelas.
"Kita diampuni, apakah kita memperoleh pahala juga Pak Kyai? Tanya seorang santri bernama Bejo setelah dipersilahkan menurunkan tangannya yang teracung tanda akan bertanya.
"Bejo, jika selama kita bertaubat, segala ibadah yang kita jalani ikhlas,InsyaAllah, pahala mengalir sejalan dengan upaya kita untuk bertaubat dan beribadah" Jawab Pak Kyai sambil membetulkan posisi duduknya, tak lama ia kembali mengeluarkan suara.
"Sudah paham? Kalian boleh kembali ke Pondokan, khusus Rauf, tinggal dulu disini" sebut Pak Kyai sambil memberi isyarat kepada seorang santri yang duduk di pojok masjid.

***

Semua santri dan santriwati keluar dari Masjid, kecuali seorang yang tadi dipanggil Rauf, dia sekarang sedang menghadap Pak Kyai, berjalan agak ragu menuju dekat mimbar tempat Pak Kyai menyampaikan tausiyahnya tadi.
"Ada apa Pak Yai, memanggil saya?" tanyanya sambil merunduk tanda hormat dan agak ragu-ragu.
"Bapak lihat, kamu sudah sangat berkembang jauh dari saat pertama kamu datang, saat orangtuamu menitipkanmu pada Bapak untuk di didik di pondok pesantren ini.
Bapak senang kamu sudah mampu beradaptasi seperti ini sekalipun diawal mungkin memang kesulitan.
Bapak ingin kamu terus seperti ini Rauf.” Dihelanya oleh Pak Kyai nafas yang panjang.
Lalu beliau melanjutkan …
“Pertahankan dan Bapak akan meminta orangtuamu menjemputmu minggu depan karena Bapak rasa kamu telah layak untuk kembali ke masyarakat, kembali ke keluarga dan duniamu yang semoga akan kamu perbarui" Ucap Pak Kyai panjang lebar penuh kharisma.
Tampak Rauf terbengong-bengong tak percaya.
"Seminggu lagi Pak? Saya baru disini 2 bulan. Orangtua saya menghendaki saya disini setengah tahun setidaknya, ini baru sepertiga jalan" ujarnya dengan nada membantah halus.
"Tak perlu selama itu, bukan maksud Bapak tak menginginimu, tapi yang di mau orangtuamu adalah kamu berubah, dan sudah terlaksana dengan amat baik,Alhamdulillah" Senyum tersungging di bibir Bapak berusia 51 tahun itu.
"Bapak,boleh saya mengungkapkan sesuatu? Bahwa sejujurnya saya diawal tidak menyukai tempat ini Pak, dan saya rasa bapak tau itu.
Tapi Bapak, Guru-guru disini lama-lama meyakinkan saya kalau ini tidak akan seburuk fikiran saya, dan itu benar ! Saya menikmati disini, InsyaAllah ikhlas karena Allah dan inilah bentuk Taubat Nasuha saya" ungkapnya.
"Lantas?"tanya Pak Kyai sambil menatap tajam penuh arti.
"PakYai, saya Rauf Riyaldi adalah HITAM, manusia yang tak manusiawi, yang dulu tak tau banyak tentang hidup di jalan yang lurus dan benar, Pak Yai, dan semua yang ada di PonPes inilah sang PUTIH, menutup kekelaman dunia saya dulu dengan ajaran religius yang nyata disini. Setidaknya sekarang ada "Putih diatas hitam", saya merasa lebih baik dan ingin terus disini, untuk kemajuan setelah meninggalkan profesi mencuri, merampok dan mabuk-mabukan. Itu kalau boleh~"
"Kalau itu untuk sebuah ibadah, tak ada larangan, warna hitammu sudah tertutup Rauf, Alhamdulillah kalau kami disini telah kamu anggap membantu untuk mengajakmu kembali kepada PUTIH dan fitrahmu." Tutup Pak Kyai.

***

Langit malam tak pernah nampak seperti malam itu, hangat bertabur bintang dan bersahaja, sebuah keakraban dan ketulusan segala sesuatu yang ada di sebuah Pondok Pesantren ujung daerah telah menberi kedamaian dan menunjukkan putih pada mereka yang sempat hitam.

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak