Bukan Salah Terpaan Angin

 Apalah yang kokoh di dunia ini, sehandal apapun makhluk bernama manusia mencoba membuat gedung pencakar langit setinggi-tingginya,
-dengan embel-embel "pastilah" kokoh- nyatanya terkadang kita dengar gedung rubuh. Pernah pula mendengar gedung hancur, dengan apa? Hanya dengan sentilan tangan Tuhan.
Singkatnya kita sebut takdir, bergulir selaras dengan detik yang telah berubah ke menit, begitu pula dengan berjalannya menit menuju jam yang kemudian berganti ke hitungan hari.
Maka lihatlah daun, bila sudah datang waktu untuknya gugur, siapa yang akan di salahkan? Tiada seorangpun!
Bukan salah terpaan angin yang membuatnya terhuyung, melainkan telah digariskan bahwa pada suatu detik yang tidak kita ketahui, daun itu sampai pada masanya.
Tiba saat dimana daun akan menerima perubahan, tidak lagi mengudara, namun menjejak ke tanah, sekedar untuk pengalaman, sebelum dia benar-benar hancur dan tak lagi tersentuh.
Biarkan itu sebagai perumpaan untuk kita, betapanya kita keluhkan suatu hal, kita libatkan orang lain sebagai penyebab "jatuh" atau "runtuh"nya kita, pada kenyataan yang mendasar, setiap perubahan yang terjadi pada diri kita merupakan takdir.

Tenanglah, tangan tangan Tuhan yang tak nampak, yang kadang menyentil kita dalam wujud bencana sebagai peringatan, tetaplah baik dalam mengatur kehidupan, agar semua berjalan seimbang, sesuai dengan kepatutan yang sepatutnya terjadi.

Comments

Popular Posts