"Maaf, Saya Masih Belajar"

Ini bukan tulisan tentang kepolosan atau keluguan, bukan pula tulisan yang berharap memperoleh respon rasa maklum dari siapapun, ini hanya tulisan tentang kesadaran diri sendiri, bahwa pada kenyataannya saya masih belajar,
ya … dalam beberapa hal, atau bahkan banyak hal.
1.  Menjaga lisan.
Bukanlah hal yang mudah untuk menjaga apa yang hendak dikeluarkan dari mulut yaitu ucapan.
Terkadang, ada kalanya menyakiti seseorang, dua orang, dan mungkin saja lebih banyak dari itu.
"Tapi apalah artinya pertambahan umur" Saya termotivasi dari itu, bahwa semakin bertambah usia, saya harus semakin baik dalam mengontrol lidah.
Semakin menyadari makna dari "mulutmu harimaumu".
Maka maaf karena saya masih belajar, dan seringkali luput karena kurang mawas diri. :)
2.  Berbaik sangka.
Orang saling menyuruh untuk saling berbaik sangka. Semudah itukah? Realitasnya tidak semua orang bisa kita kenakan pasal ini, kepada orang yang sudah berlabel "tidak bisa dipercaya", bisa jadi berburuk sangkalah yang sering terjadi.
Memang masih belajar untuk berbaik sangka, bila terkadang belum terealisasikan maka ingatkan saya untuk membayangkan bagaimana jika saya di buruk sangkai oleh orang lain, dan semoga saya sadar lalu semakin giat untuk belajar berbaik sangka. :)
3.  Bersikap baik
Banyak artian merujuk pada ungkapan ini, beda orang beda persepsi. Bila saya mengatakan "itu tidak sopan", tidaklah selalu ucapan saya ini akan dibenarkan oleh orang-orang. Maka, yang perlu dilakukan adalah mengarahkan persepsi seseorang agar setidaknya tidak bertentangan terlalu jauh dengan harapan kita.
Jika suatu kali saya bersikap kurang baik, maka tegurlah saya, namanya baru belajar, masihlah perlu ada bimbingan dari orang yang mungkin saja lebih tau atau setidaknya dari orang yang lebih kritis dalam menilai melalui sudut pandangnya masing-masing.
Tapi tolong jangan salahkan saya, bila tidak berubah persepsi saya bahwa yang saya lakukan sudah baik. Karena kita berbeda pandangan. Tergantung pula bukan oleh siapa yang terlibat? :)
4.  Sabar
Sabar itu memang tidak ada habisnya, namun kadar kesabaran dalam diri kita sering kali naik turun, mengalami pasang surut dan seketika anjlok.
Lagi-lagi saya masih belajar, masih sering lepas kendali dan melupakan kewajiban untuk sabar. Tapi siapa yang tidak tau? Sesekali keluar perasaan bahwa "ini terlalu parah", bahwa "aku sulit untuk memaklumi" sehingga kesabaran seolah tidak ada untuknya.
Maka, beri tau saya, kalau sayapun tidak akan senang bila orang lain tidak mau bersabar menghadapi diri saya. :)
5.  Beribadah
Ini lebih kepada urusan pribadi dengan Tuhan. Bahwasanya rutinitas, seringkali mengusik kewajiban untuk rutin menjalankan ibadah. Tapi apalah makna dunia jika hanya mengantar pada kesuraman akhirat?
Tolong ajari saya ini yang benar-benar masih belajar bagaimana menata waktu, memantapkan hati bahwa dunia bukan untuk dikejar. :)

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak