Posts

Showing posts from 2016

Langit Butuh Awan dan Matahari

Kepada mereka, Dhita dan Ira...
Tulisan ini hendak memeluk erat mereka melebihi pelukan perpisahan kemarin
Tulisan ini akan menjadi cerminan kebaikan mereka, bukan karena aku ingin meninggikan mereka, tapi aku ingin setiap kebaikan itu tidak pernah luput terlupakan olehku, seperti kataku, egois kalau kita tidak mau menulis, egois kalau kita berusaha mengingat sementara kita tahu, tak akan banyak yang diingat selain garis-garis besar yang bagaimanapun terancam dimakan waktu pula.

Teruntuk Dhita, Ira
Kalian adalah perwujudan pertolongan yang Allah kirimkan untukku.
Kalian adalah perwakilan dari rasa sayang, kepedulian, ketegasan yang membaur jadi satu.
Jikalau aku langit, Dhita adalah gumpalan awan yang menurunkan hujan, tampak gelap namun penuh kebermanfaatan. Maka Ira lah mataharinya, yang terbit, timbul, berapi-api, tak jarang tenggelam. Kalian adalah perpaduan yang akan menjadikan pelangi nampak di langit, warna-warni di diriku.

Terimakasihku untuk setiap ketulusan kalian yang menja…

Ayah dan Resiko yang Diambilnya

Ayah, barusan engkau menelpon Menceritakan alasanmu baru menghubungiku Ternyata semua karena lembur Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, kemarin engkau bercerita Tentang bahasa asing yang sukar engkau pahami Dikala meeting dengan kolegamu Dan engkau memintaku mengajarimu Akupun menghela napas panjang, Yah Pendidikanku yang berada diatas pendidikanmu adalah bukti Kerelaanmu menyempitkan mimpimu Demi meluaskan mimpi anak-anakmu Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, kemarin engkau bercerita Tentang tagihan yang ada di depan mata Bagaimana biaya pendidikan dan kesehatanku menuntutmu Namun engkau menghibur keresahanku dengan berkata “Itu tanggung jawab Ayah, Nak” Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, usiamu empat puluh sembilan Masih berkelut dengan terik Dibawah kerangka bangunan dua belas lantai Aku jadi malu Semua resikomu karena aku ya, Yah?
***
Penutup: Teruntuk Ayah terbaikku, Segera tuntaskan pekerjaanmu Segera pula bangun perusahaan konsultan dibawah naungan namamu Agar ilmumu yang membua…

Ibu dan Kerinduanku

Image
Masih dalam suasana hari Ibu Teriring kerinduan teramat mengingini dekapan Ibu Tentang aku, di sudut kamarku Dan Ibu, di ujung jauh
***
Assalamualaikum Ibu... Bu, maukah engkau mendengar kisahku? Kisah tentang seorang anak rantau di peraduannya?
Jadi begini, Bu... Aku baru saja pulang selepas makan malam dengan temanku Dan aku ingin bertanya? Sudahkah perutmu terisi makanan layaknya aku yang kenyang dengan makananku? Sudahkah peluh lelahmu bekerja seharian hilang? Barangkali, untuk menyeka keringatmu saja engkau lupa, Bu Aku jadi tak enak hati...
Aku baru memulai mengerjakan tugas ditemani temanku, Bu Sementara engkau sudah menuntaskan tugas dan kewajibanmu Namun masih ditagih permintaan rewel adik-adik ya? Dan aku ingin bertanya, Seberapa kokoh kesabaranmu, Bu? Orang bilang tanda sabarmu habis adalah kemarahanmu Namun amarahmu tak pernah bertahan sampai hitungan jam Bu Maka secepat apa kesabaran itu kembali? Apakah pondasi milikmu sebegitu kuat? Ajari aku, Bu...
Aku baru saja usai menarik uang dari rekeningk…

Biarkan Aku dan Jalanku yang Luas Membentang

Sebelum tulisan ini dibuat, barangkali sudah ada yang pernah mendengar kalimat serupa terlontar dariku. But hey! Mengapa tidak aku curahkan saja disini agar meskipun pertanyaan serupa tak bisa ku bendung, setidaknya aku bisa mengarahkan orang-orang dengan pertanyaan serupa agar membaca tulisan ini saja, barangkali berkenan...

Beberapa waktu terakhir banyak orang yang mempetanyakan "mengapa kamu tidak cuti?". Dan aku akan selalu membuka jawaban dengan berkata bahwa aku tidak menerima konsep cuti. Konsep cuti? Ya, cuti ini bisa diartikan istirahat, break atau cuti sebagimana "libur'" untuk jangka waktu yang lama. Paham?

Teruntuk kalian yang menanyakan hal ini, sayang ingatlah, orangtuaku, orangtuamu, diriku atau dirimu di kala sakit tentu ingin untuk sembuh, lalu melakukan pengobatan dengan susah payah, merelakan waktu, materi dan pekerjaan seharusnya terbelangkalai, setelah itu berharap sehat lagi, agar apa? bukankah agar dapat kembali menjalankan rutinitasnya? …

Fisipers adalah Kita

Aku tidak lebih dari debu halus dibanding potensi-potensi besar yang berderet dalam jajaran kepengurusan.
Aku tidak lebih dari orang yang menumpang untuk belajar dan berharap, berharap bahwa aku dapat tumbuh dan berproses di dalamnya.
Teruntuk Fisipers UI, rumahku selama dua tahun, tempatku menemukan teman-teman yang selalu aku ucap "Alhamdulillah" atas kehadirannya.
Terimakasih banyak untuk pembelajaran yang sangat mewah yang bisa aku dapatkan darimu dan orang-orang dibelakangmu.
Terimakasih untuk nikmat kebersamaan, meskipun banyak yang masih menganggapnya kurang disana sini, namun sudah terasa begitu menyentuhku.
Aku senang menutup dua tahun bersamamu.
Terimakasih untuk kesempatan merasa memiliki keluarga.
Hal yang paling berharga adalah, ketika begitu banyak orang dengan berbagai pemikiran, kecerdasan, melebur jadi satu dan saling berbagi.
Maafkan aku yang jauh dari sempurna, jauh dari batas kontribusi yang seharusnya, jauh dari perkataan baik dan umpatan di belakangmu (…

Kerinduan untuk 2 Tahun yang Berlalu

Pagi ini aku menolak untuk tidak menulis. Ada hari kemarin dimana banyak hal yang terlalu manis, terlalu egois bila disimpan dalam memori yang serba terbatas.

Kemarin aku menangis menulis sepucuk surat ringkas untuk seorang teman yang telah menjadi tempatku tumbuh dan berproses. Perkenalkan, Okta Riani yang entah bagaimana dipertemukan denganku di divisi yang sama dalam sebuah organisasi, selama 2 tahun.

Okta adalah orang yang membuatku menerima walau aku tidak mendapat posisi yang aku inginkan.
Okta adalah orang yang membuatku bertahan dengan pilihan yang dipilihkan orang lain.
Okta adalah orang yang mengubah keterpaksaanku di tahun pertama, menjadi keinginan untuk "pulang" ke rumah yang sama di tahun kedua.

Dia tidak pernah menjadi Okta yang sendiri, dia bekerja atas nama beberapa nama, termasuk aku.
Dia tidak pernah mencari pembuktian bahwa dialah yang selalu bekerja.
Dia membuatku sungkan untuk tiap ketidakhadiran dan keabsenanku dalam membantu.
Dia mengerjakan hal-hal y…

Kalimat Tamparan yang Menohok

Bayangkan disuatu pagi yang cerah. Tetanggamu datang dan membawakanmu makanan. Senang? Bagus. Bayangkan lagi makanan yang diberikan kamu sia-siakan. Bagaimana bila kamu menjadi tetangga itu? Kecewa, betul? Bagus.
Maka tulisan ini, akan menjadi jawaban dari pengandaian diatas. Tulisan ini akan bercerita seberapa menohoknya kalimat saat dengan jujur diungkapkan.
Saat orang yang peduli denganmu kamu sia-siakan dan pada akhirnya mereka berbalik, tidak lagi sama. Aku dan kamu barangkali akan tertampar. Kita lihat saja.

Suatu siang sebuah pesan mendarat. Berjarak 400 kilometer lebih, ada kalimat menanyakan kabar, lalu disambut jawaban sederhana. Maka kemudian, perbincangan dimulai.
Teman-teman, perkenalkan seorang teman yang saya kenal sepanjang waktu saya memulai dunia perkuliahan hingga tiba di titik ini.
Teruntuk Teteh Sofi Isnaeni Haqi.
Kutipan berikut adalah nasihat terbaik yang bisa aku dapatkan dari orang sekitarku, bersumber dari tutur katamu yang terungkapkan melalui tulisan
"…

Kepadamu, Akankah Masih?

Image
Logikanya, harusnya kita saling mengenal jauh sebelum ini. Namun Allah mempertemukan kita tanpa aku dapat memprotes rasa terlambat itu.
Teruntuk Raveena Fiarani, aku sempat kelu dan berniat tidak melanjutkan tulisan ini karena setahuku ada orang-orang yang tidak nyaman ketika orang lain menyampaikan sesuatu dengan cara seperti ini. Tetapi, seperti keteguhan yang sering aku ungkapkan, inilah caraku mengapresiasi dan berterimakasih untuk setahun yang terlewati.

Assalamualaikum Veena,
Saat menulis ini, aku sedang di rumahku dan kamu di rumahmu yang sudah tentu berjarak ratusan kilometer dariku. Kalau ditanya mengapa tulisan pertama terpikirkan untukmu? Sesederhana karena kamu yang aku ingat dan aku syukuri keberadaannya beberapa hari ini, diluar dari keluargaku.

Aku telah menyampaikan kesanku, bahwa "coba kalau tidak ada Veena ya, aku pasti kacau". Sekali lagi hal itu benar adanya.

Pertama,
Setelah semester 4 berlalu dan aku menghilang begitu saja, aku merasa menjadi orang yang…

Sebuah Pengantar

Assalamualaikum.
Tulisan ini dibuat tepat pukul 23:30. Sepulang dari rawat inap di Rumah Sakit. Saat jalan masih belum tegap. Saat buka mulut terasa bagai cari mati, karena pasti mual.
Tulisan ini adalah pengantar tulisan-tulisan berikutnya. Agar tidak ada yang bertanya, mengapa harus menulis?
Saya sendiri adalah orang yang sangat  senang menumpahkan kebahagiaan, rasa syukur, terharu, terkesima dengan cara menulis, terlepas dari akan dibaca atau tidaknya oleh orang-orang bersangkutan yang terkait. Saya merasa bahwa apresiasi adalah hal yang penting, hal yang meskipun kadang masih dianggap "untuk apa" namun punya pengaruh yang luar biasa karena kehidupan melibatkan banyak orang, kehidupan butuh orang-orang yang punya sisi positif dalam memandang lingkunganya. Semesta lebih menyukai orang-orang yang mendewasakan pemikirannya dengan bersyukur, berterimakasih atas keberadaan orang-orang terkasih. Inti dari tulisan berikut ini adalah bentuk apresiasi saya, rasa syukur saya dan te…

Selepas Hujan, Tangispun Terbit

Aku tak pernah merasa segagal ini
---
Hari ini air mata itu tak terbendung
Diperparah dengan hujan yang turun dengan derasnya
Seperti hujan,
Ini bukan lagi soal rintik
Ataupun gerimis
Ini tidak sesederhana itu

Hari ini aku gagal
Gagal menyelamatkan diri sendiri dari tanggung jawab
Gagal menempatkan diri sebagai orang yang bisa diandalkan

Hari ini aku gagal
Gagal mengartikan kepercayaan
Gagal menjalankan amanah

Teruntuk Ibu, Ayah pemberi amanah terbesar yang telah ku duakan dengan hal lain
Teruntuk orang-orang yang telah memercayakan hal besar yang akupun khianati
Maafkan
Karena sesungguhnya yang besar dari diri ini
Belum berupa jiwa
Namun masih luput, ketidakdewasaan dan kekecewaan lainnya.

---

Vita, selepas hujan, selepas tangisannya mereda
Terimakasih Ira yang walaupun tidak mengerti namun mengizinkan aku menangis lewat telfon dan mau mendengarkan
Hal tersebut sangat berharga

Sepotong Lirik Yang Terngiang (2)

"Terisak-isak suara tangisku, melawan kenyataan habis upayaku"

 ---

Hari-hari berlalu terlalu cepat
Hingga aku bertanya-tanya
Kemana perginya menit?
Jam?
Bahkan hari?
Detik yang sering tidak diperhitungkan
Makin menjadi kerinduan

Di titik ini
Ada hal yang memaksa tuk dipikir
Ada hal yang memojokkan diri

Tugas, kewajiban, keharusan atau apapun itu namanya
Kini tak seimbang

Kadang ingin menangis
Merasa teriris
Aku ternyata tidak menyayangi diri sendiri

Aku memaksa terlalu jauh
Aku menyangkal batas kemampuanku
Namun aku tak ingin merubah waktu
Aku hanya sedang berjalan lurus
Sebagaimana orang-orang menuntutku

---

Terima kasih untuk Tak Seimbang - Geisha ft Iwan Fals, yang menemani dan menjembatani pikiran saya hingga dapat tertulis demikian.

Bulan-bulan Kerinduan

Hari ini bulan November
Aku meringis
Beberapa hari lagi lilin yang akan ku tiup bukan angka belasan
Bukan diawali angka satu
Namun diawali angka dua

Bulan ini adalah bulan-bulan kerinduan
Bulan dimana aku merindukan lilin berangka satuan yang ku tiup
Lilin yang menunjukkan aku masih belia
Lilin yang menunjukkan bahwa aku masih pantas menerima manjaan
Namun lilin-lilin itu tahun demi tahun telah tertiup
Tanpa menyisakan apapun
Hanya kerinduan yang kini datang menginginkan balon dan pita warna-warni menghias

Bulan ini adalah bulan-bulan kerinduan
Bulan dimana aku merindukan lilin berangka belasan yang ku tiup
Masih penuh kebebasan
Masih ada pemakluman
Sebagaimana angka-angka silih berganti
Memang ada tanggung jawab yang baru

Namun kali ini berbeda
Lilin yang hendak ku tiup nanti bukan se-sederhana angka-angka belasan
Lilin yang akan ku tiup akan jadi pertanda
Bahwa aku telah dewasa
Bahwa aku tak lagi sama
Tak lagi boleh meminta maklum atas sifat kekanak-kanakan
Tak lagi boleh merajuk k…

Hal yang Menyita Malam Ini

Aku harusnya membaca
Namun tak ada satu kata yang ku eja
Pikiranku melayang entah kemana
Yang ku tahu,
Dihadapanku ada wajah-wajah yang tersenyum namun jauh
Karena ketika ku pegang
Aku menyadari mereka tak lebih dari perpaduan tinta
Tercetak untuk diingat
Lebih-lebih tuk dikenang

Apa Bapak tidak percaya Tuhan?

Umur, rezeki dan jodoh telah disebut Tuhan sebagai takdir yang telah digariskan bagi masing-masing individu.
Ini adalah sebuah tulisan untuk mengapresiasi seorang driver Gojek.

---

Pagiku terusik
Aku memesan Gojek untuk menuju Kampus UI Depok
Kosanku terletak di Jalan Juragan Sinda, Kukusan, Beji, Depok
Rute yang akan ku lewati salah satunya adalah Jalan Masjid Al Farouq
Pagi ini aku memesan pada pukul 10:41
Aku tidak sedang terburu-buru
Aku punya cukup waktu
Namun aku memerlukan jemputan yang dekat
Mudah aku jangkau mengingat kesehatan sedang tidak terlalu baik
Aku tidak sedang manja
Percayalah

Mas Bari Siswoyo akan menjadi driverku pagi ini
Ia menjemputku dan segera saja kita berangkat
Belum sampai 5 menit, di sebuah tanjakan dekat Masjid Al Farouq
Seorang bapak ojek pangkalan menyetop kami
Kemudian ia mulai berbicara pada driver dan langsung menggunakan nada tinggi
Aku mendengarkan sampai akhirnya terpancinglah emosiku
Dia ngotot memarahi driver gojek karena telah "mengambil&q…

Travel of Hope "Perjalanan Asa Adik-adik Kami"

Image
Sabtuku terasa berbeda, aku terbangun untuk menuju kampus, tapi bukan untuk kuliah, bukan untuk disodori kertas-kertas ujian yang membuat penat, bukan pula untuk mendiskusikan tugas yang menggunung. Aku melepas semuanya. Aku terlalu bersemangat untuk hal yang lain.
Ketika tiba di danau UI, pertemuan dengan beberapa pihak dari yayasan gerakan nasional orang tua asuh (G-NOTA), semakin memperjelas bayanganku tentang "Travel of Hope", tentang menjadi kakak asuh sehari, menemani adik-adik. Adik-adik adalah murid SD Karang Tengah 01, Bogor dari kelas 4, 5 dan 6. Mereka tiba berseragamkan putih merah khas anak SD, dengan wajah-wajah lugu yang menatap sekitarnya dengan pandangan penuh arti.
Hari ini kami akan melukis pundi-pundi, celengan berbentuk pinguin/doraemon yang terbuat dari keramik. Ketika seorang panitia yayasan bertanya "Kalian sudah pernah melukis?". Kemudian kau tau? tidak ada satupun dari mereka yang menunjuk tangan atau mengiyakan pertanyaan tersebut. SAMA S…

Malam-malam Tanpa Tidur

Selamat Pagi dari sepetak kamar yang kasurnya belum disentuh pemiliknya
Selamat Pagi dari seorang yang telah menanti-nanti kantuk namun tidak bertemu
Selamat Pagi dari jerit lelah malam-malam tanpa tidur

---

Ada yang mengeluh akan waktu tidur yang terlalu cepat
Ada pula yang melanjutkan tidur tanpa berfikir tentang waktu
Sementara diluar sana, ada yang melewati malam-malam tanpa tidur
Ada yang mengaku baru sebentar tertidur
Ada pula yang marah karena dibangunkan
Sementara diluar sana, ada yang begitu merindukan waktu tuk tidur
Ada yang mengeluhkan mimpi semalam
Ada yang berkata tak ingin mengulangnya
Sementara diluar sana, ada yang berharap ingatannya luruh berganti mimpi
Ada yang berkata sulit tuk tidur
Ada pula yang memaki pekerjaan sebagai penggangu tidur
Sementara diluar sana, ada yang ingin mengecap tidur walau urusannya terbengkalai

---

Ada yang merindukan kantuk
Mengingini mata terpejam
Pikiran terlelap kemudian berenang dalam lautan mimpi
Sayang mereka-mereka yang melewati mal…

Sore, Hujan, dan Kegagalan

Sore ini hujan turun terlalu deras
Bukan
Bukannya aku tidak mensyukuri nikmat dibalik hujan
Hanya saja...

Aku teringat dengan Pak Tri, supir Uber motor yang ku pesan tadi siang
Beliau berjarak cukup jauh dariku
Butuh 11 menit baginya untuk  menjangkauku
Tapi ia bertekad
Dan mengiyakan

Selang berapa menit dia mengirimiku pesan
Bahwa ia tidak menyanggupi menembus lebatnya hujan
Begitu sopan meminta maaf padaku
Dan meminta tidak dinilai buruk olehku
Baiklah
Aku mengiyakan

Sekarang
Di sore hari saat air hujan masih mengalir
Aku teringat akan dua kegagalan
Kegagalanku berbagi rezeki pada Pak Tri
Kegagalan Pak Tri memperoleh rezeki

Iya, satu rezeki pergi mengalir sebelum berhasil ia genggam
Hujan yang mengalirkan
Namun hujan tak bisa disalahkan

Disana tempatnya sempat berharap akan rezeki
Ada yang pupus
Namun aku percaya beliau akan menjumpai rezeki-rezeki yang lain

Sementara hujan.
Akan terus mengaliri
Ladang kekeringan milik petani
Yang telah lama dinanti

Siklus rezeki
Semua punya porsi

Sepotong Lirik yang Terngiang (1)

"Hey dad look at me, think back and talk to me, that I grow up according to plan?
Do you think I'm wasting my time, doing things I wanna do?" - Simple Plan (Perfect)

---

Sepotong lirik yang membuat saya terngiang tentang,
Ayah
Apakah saya "tumbuh" sebagaimana seharusnya?
Apakah saya telah melakukan hal yang saya ingini namun membuat waktu sia-sia?

Ternyata saya bisa belajar
Berfikir
Merefleksikan diri
Darimanapun
Bahkan dari penggalan sebuah lagu.

Maka Ayah,
Perkenankan putrimu menanyai hal ini padamu
Tentang 8 bulan yang engkau lewati bersama Ibu dan Kakak saat aku belum terlahir Tentang 19 tahun yang kita lewati bersama.

Ayah,
Apakah pernah terfikir olehmu dimana studi sarjana akan ku ambil saat dulu?
Apakah engkau ternyata sudah punya rencana?
Dan mengalah demi aku?
Maka, maafkan putrimu Ayah.

Ayah,
Menyesalkah dengan pilihan jurusanku yang sepenuhnya egoku?
Apakah engkau mengganggap kuliahku akan sia-sia?
Dan aku memang begitu keras untuk hal ini
Maka, m…

Untuk Putriku Kelak

Sedang apa kamu nak?
Menawar sisa alkoholmu semalam dengan sekaleng susu?
Jika iya, kamu bukan putri yang aku tunggui selama ini
Sejak tulisan ini masih bayang-bayang
Saat belum ada orang yang ku lihat sebagai masa depanku, sebagai ayahmu

"Ibu jahat"
Jangan berkata demikian, nak
Aku tidak sedang menggagungkan diriku
Namun usiaku telah lebih daripadamu
Telingaku telah mendengar hal-hal buruk yang membuat enggan tuk mendengar
Mataku telah menyaksikan keburukan yang timbul dan siapapun tak ingin melihat
Dan kamu berniat menyentuh salah satu dari keburukan itu?

Nak,
Jangan pergi tanpa pamit atau menipu Ibu dengan berbagai alasan
Hal yang menurutku tidak baik untukmu, memang tak selalu tepat bagimu
Tapi saat kamu membaca tulisan ini tolong pikirkan satu hal
Aku menunggu 20 bahkan 30 tahun untuk menemuimu
Dan kamu ingin suatu malam aku menjumpaimu mengendap-endap masuk rumah sepulang dari bar?
Aku akan berpuluh-puluh kali terkaget-kaget karenamu
Memikirkan apa yang salah dalam did…

Berkaca dari Seorang Teman

Image
Beberapa menit lalu, saya hanya terpaku menyaksikan seorang teman dalam sebuah video kegiatan yang sempat saya ingin ikuti.
Kemudian saya sadar, ada wajah yang tidak asing, begitu saya kenal, dan saya menyadari siapa dia, seorang teman.
Ingatan saya kembali ke beberapa bulan belakang ketika saya bicara padanya tentang apa yang sempat saya ingini.
Namun saya dirundung kegagalan dan sempat berkata "coba kamu".
Saya tak tahu apa yang dilakukannya setelah itu.
Namun melihat video tersebut saya tersadar (lagi) bahwa dia mencobanya dan dia berhasil.
Saya terdiam, saat ini harusnya saya sedang menuju sebuah kafe untuk mengerjakan tugas dengan teman saya, tapi saya rela menunda untuk menulis saat ini, sesegera mungkin ketika saya benar-benar menyadari, ada iri di hati.
Tidak ada rasa bangga padanya, namun ada rasa kecewa yang besar dalam diri saya, mengapa dia bisa dan saya tidak?
Mengapa saya gagal dan dia berhasil?
Saya tidak hendak menanyainya.
Saya tidak hendak berguru padanya.

Pertanyaan untuk Bapak dan Ibu

Aku tidak sedang hujan-hujan
Namun wajahku basah
Dan Bapak bertanya
Mengapa kamu menangis, nak?
Aku tidak sedang berlari
Namun badanku berkeringat
Giliran Ibu yang bertanya
Mengapa kamu ketakutan, nak?

Bapak... Ibu...
Siapa mereka yang berbicara
Soal hidup dan mati?
Tentang panjang dan pendek umur?
Apa mereka Tuhan?

Bapak... Ibu...
Mengapa Bapak dan Ibu diam?
Saat mereka menyuruhku
Melakukan ketidakmauanku?
Saat mereka melarangku
Melakukan kemauanku?

Bapak... Ibu...
Suruh mereka diam
Karena Tuhan tidak akan diam, kan?


- 4 September 2016
Untuk teman-teman yang sedang berjuang dengan sakitnya.
Doaku untuk kalian. Selalu.



Pertanyaan Hingga Akhir Hayat

Mereka yang sakit dan menelurkan jutaan rupiah, apakah melakukan kepercumaan?
Apakah ketika mereka membayar sekian rupiah, umur mereka akan diperpanjang?
Tapi bukankah kematian itu takdir? Dan tidak bisa diubah? Apakah bila mereka tidak berobat, umur mereka akan sama dengan mereka yang berobat?
Atau apakah ketika mereka memutuskan untuk berobat, takdirlah yang mendorong mereka untuk memilih?
Pilihan yang kita buat apakah termasuk takdir yang sebenarnya tidak bisa dikompromi? Dan Allah secara tidak kita ketahui telah menjadikan kita berpikir tentang memilih opsi tertentu?
Jika kematian adalah takdir, apakah proses menuju kematian beserta pilihan-pilihan rumit adalah takdir yang rigid dan tidak bisa diubah?

---
Untuk mereka yang sakit, apakah obat-obatan benar-benar memberi penyembuhan? Apakah kemoterapi benar-benar menghancurkan sel kanker? Apakah cuci darah menjadi satu-satunya jalan bagi mereka dengan penyakit ginjal ataupun thalasemia? Lalu apakah operasi benar-benar pengangkatan pe…

Untuk Calon Suamiku Kelak

Assalamualaikum Mas,
Entah usiamu lebih tua maupun muda daripada diriku, beginilah kelak aku akan memanggilmu.
Aku anak kedua dari 4 bersaudara, Mas. Jadi ketauilah bahwa ada sisi dimana aku manja layaknya adik, namun juga penyayang dan bertanggung jawab layaknya seorang kakak.
Aku terlahir dari keluarga biasa saja.
Aku tidak dibiasakan AC oleh orangtuaku, sehingga aku tidak akan menuntut dan marah ketika rumah kita kelak hanya disejukkan oleh kipas angin.
Orangtuaku mengharuskanku untuk sekolah negri sepanjang TK-PTN, jadi jangan berprasangka bahwa aku memandang rendah sekolah swasta, tapi aku hanya terbiasa dengan sekolah semacam yang telah aku tempuh.
Aku di besarkan dalam keluarga dimana Papa bukan ayah yang tiap hari pulang ke rumah setelah bekerja. Papa adalah pekerja keras yang sesekali akan pulang dalam kurun waktu tertentu. Jadi jangan heran bila aku tidak mencecarmu saat engkau diharuskan menuntaskan urusan di luar rumah dalam waktu lama, aku mempercayai Allah sebagai pelind…