Untuk Calon Suamiku Kelak

Assalamualaikum Mas,
Entah usiamu lebih tua maupun muda daripada diriku, beginilah kelak aku akan memanggilmu.
Aku anak kedua dari 4 bersaudara, Mas. Jadi ketauilah bahwa ada sisi dimana aku manja layaknya adik, namun juga penyayang dan bertanggung jawab layaknya seorang kakak.
Aku terlahir dari keluarga biasa saja.
Aku tidak dibiasakan AC oleh orangtuaku, sehingga aku tidak akan menuntut dan marah ketika rumah kita kelak hanya disejukkan oleh kipas angin.
Orangtuaku mengharuskanku untuk sekolah negri sepanjang TK-PTN, jadi jangan berprasangka bahwa aku memandang rendah sekolah swasta, tapi aku hanya terbiasa dengan sekolah semacam yang telah aku tempuh.
Aku di besarkan dalam keluarga dimana Papa bukan ayah yang tiap hari pulang ke rumah setelah bekerja. Papa adalah pekerja keras yang sesekali akan pulang dalam kurun waktu tertentu. Jadi jangan heran bila aku tidak mencecarmu saat engkau diharuskan menuntaskan urusan di luar rumah dalam waktu lama, aku mempercayai Allah sebagai pelindungmu yang sebaik-baiknya. Cukup janjikan aku bahwa engkau ingat jalan pulang dan selalu memiliki alasan untuk pulang.
Mama adalah seorang PNS yang rutin meninggalkan rumah saat jam kerja tiba, dan baru pulang selepas sore. Dari beliaulah aku berprinsip bahwa perempuan harus memiliki pekerjaan untuk keberlangsungan hidupnya sebelum seorang lelaki menikahinya, dan untuk bekal karena masa depan sangat sulit diprediksi.
Dari Mama jugalah aku memandang bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Pendidikan yang telah beliau tempuh sampai perguruan tinggi lah yang menjadi dasar untuknya mengajari kami anak-anaknya. Sehingga ketika aku kesulitan dan datang padanya dengan suatu pertanyaan, beliau dapat menjawabnya dan menjadikan aku paham. Jadi ku beritahu Mas, bahwa akupun akan berusaha menuntut ilmu setinggi-tingginya semampu yang aku bisa. Bila kelak saat kita telah berkeluarga aku berniat melanjutkan studi, izinkan aku mewujudkannya ya, Mas? Dukunganmu pasti akan menjadi semangat dan kekuatanku. Aku akan tetap mengingat kewajibanku sebagai istri dan kodratku sebagai ibu.
Mas, aku ingin pernikahan kita menjadi kenangan yang manis, jadi mulailah mengawali kisah kita dengan berjanji bahwa aku adalah satu-satunya perempuan yang berkesempatan jadi pendampingmu. Maaf untuk satu hal yang tidak bisa ditawar ini.
Mas, aku ingin pernikahan kita menyatukan dua keluarga kita, tapi untuk atap yang kelak kita naungi, aku ingin bukan merupakan rumah dari orangtuamu atau orangtuaku. Sesederhananya rumah kita nanti, itulah rumah yang benar-benar ku rindukan. Bukan engkau yang akan membangunnya sendirian, namun kita bersama-samalah. Agar rumah itu mengikat kita berdua dan menjadi tempat kita saling pulang.
Mas, anak-anak kita mungkin tidak beruntung memiliki ibu seperti aku, tapi bersamamu yang melengkapiku, katakan pada mereka bahwa kita akan menjadi orangtua terbaik. Kita akan mendiskusikan tentang bagaimana mendidik mereka dan ku mohon jadilah ayah yang pengertian ya Mas? Kita hidup di tahun sekian dan mereka di tahun yang lain, tentu zaman telah berubah dan kita harus mengupayakan adaptasi diri yang sesuai namun tetap berpegang teguh pada nilai agama dan kebaikan yang kita ketahui.
Mari kita tunjukan bahwa didikan orangtua kita masing-masing berhasil menjadikan kita sebagai pribadi yang baik, bahwa orangtua kita telah membekali begitu banyak nasihat yang menempa kita dan kitapun menjadi orangtua yang baik layaknya mereka.
Ibu dan ayahmu akan ku anggap seperti Mama Papaku sendiri, aku akan sama khawatirnya ketika mereka sakit dan aku tak akan lupa memasakkan makanan lezat untuk mereka. Akupun memohon agar engkau memperlakukan Mama Papa sebaik yang kau bisa ya Mas?
Mas, bila aku tidak sesuai ekspektasimu dalam menjalani kehidupan bersama, ingatkan aku dan ajak aku berunding ya? Jangan lantas memarahi dan membentakku karena aku takut sakit hati.
Mas, aku tak akan menguji kesetiaanmu dengan cara apapun karena aku tak tau harus bagaimana, tapi berjanjilah bahwa kesetiaanmu akan sepadan dengan yang ku beri.
Mas, bila kelak aku tidak tuntas menyelesaikan tugasku sebagai istri dan ibu dari anakmu karena mendahuluimu, aku titipkan anak-anak kita, atau bahkan cucu kita padamu. Dan janjikan aku bahwa kau akan menjadi ayah dan kakek yang baik. Aku amat menanti waktu dimana kita bertemu dan aku akan menyuruhmu membaca ini semua, agar kamu mengerti.
Semoga engkau baik-baik selalu, sebelum dan setelah bertemu aku, jodohku :)

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak