Posts

Showing posts from October, 2016

Travel of Hope "Perjalanan Asa Adik-adik Kami"

Image
Sabtuku terasa berbeda, aku terbangun untuk menuju kampus, tapi bukan untuk kuliah, bukan untuk disodori kertas-kertas ujian yang membuat penat, bukan pula untuk mendiskusikan tugas yang menggunung. Aku melepas semuanya. Aku terlalu bersemangat untuk hal yang lain.
Ketika tiba di danau UI, pertemuan dengan beberapa pihak dari yayasan gerakan nasional orang tua asuh (G-NOTA), semakin memperjelas bayanganku tentang "Travel of Hope", tentang menjadi kakak asuh sehari, menemani adik-adik. Adik-adik adalah murid SD Karang Tengah 01, Bogor dari kelas 4, 5 dan 6. Mereka tiba berseragamkan putih merah khas anak SD, dengan wajah-wajah lugu yang menatap sekitarnya dengan pandangan penuh arti.
Hari ini kami akan melukis pundi-pundi, celengan berbentuk pinguin/doraemon yang terbuat dari keramik. Ketika seorang panitia yayasan bertanya "Kalian sudah pernah melukis?". Kemudian kau tau? tidak ada satupun dari mereka yang menunjuk tangan atau mengiyakan pertanyaan tersebut. SAMA S…

Malam-malam Tanpa Tidur

Selamat Pagi dari sepetak kamar yang kasurnya belum disentuh pemiliknya
Selamat Pagi dari seorang yang telah menanti-nanti kantuk namun tidak bertemu
Selamat Pagi dari jerit lelah malam-malam tanpa tidur

---

Ada yang mengeluh akan waktu tidur yang terlalu cepat
Ada pula yang melanjutkan tidur tanpa berfikir tentang waktu
Sementara diluar sana, ada yang melewati malam-malam tanpa tidur
Ada yang mengaku baru sebentar tertidur
Ada pula yang marah karena dibangunkan
Sementara diluar sana, ada yang begitu merindukan waktu tuk tidur
Ada yang mengeluhkan mimpi semalam
Ada yang berkata tak ingin mengulangnya
Sementara diluar sana, ada yang berharap ingatannya luruh berganti mimpi
Ada yang berkata sulit tuk tidur
Ada pula yang memaki pekerjaan sebagai penggangu tidur
Sementara diluar sana, ada yang ingin mengecap tidur walau urusannya terbengkalai

---

Ada yang merindukan kantuk
Mengingini mata terpejam
Pikiran terlelap kemudian berenang dalam lautan mimpi
Sayang mereka-mereka yang melewati mal…

Sore, Hujan, dan Kegagalan

Sore ini hujan turun terlalu deras
Bukan
Bukannya aku tidak mensyukuri nikmat dibalik hujan
Hanya saja...

Aku teringat dengan Pak Tri, supir Uber motor yang ku pesan tadi siang
Beliau berjarak cukup jauh dariku
Butuh 11 menit baginya untuk  menjangkauku
Tapi ia bertekad
Dan mengiyakan

Selang berapa menit dia mengirimiku pesan
Bahwa ia tidak menyanggupi menembus lebatnya hujan
Begitu sopan meminta maaf padaku
Dan meminta tidak dinilai buruk olehku
Baiklah
Aku mengiyakan

Sekarang
Di sore hari saat air hujan masih mengalir
Aku teringat akan dua kegagalan
Kegagalanku berbagi rezeki pada Pak Tri
Kegagalan Pak Tri memperoleh rezeki

Iya, satu rezeki pergi mengalir sebelum berhasil ia genggam
Hujan yang mengalirkan
Namun hujan tak bisa disalahkan

Disana tempatnya sempat berharap akan rezeki
Ada yang pupus
Namun aku percaya beliau akan menjumpai rezeki-rezeki yang lain

Sementara hujan.
Akan terus mengaliri
Ladang kekeringan milik petani
Yang telah lama dinanti

Siklus rezeki
Semua punya porsi

Sepotong Lirik yang Terngiang (1)

"Hey dad look at me, think back and talk to me, that I grow up according to plan?
Do you think I'm wasting my time, doing things I wanna do?" - Simple Plan (Perfect)

---

Sepotong lirik yang membuat saya terngiang tentang,
Ayah
Apakah saya "tumbuh" sebagaimana seharusnya?
Apakah saya telah melakukan hal yang saya ingini namun membuat waktu sia-sia?

Ternyata saya bisa belajar
Berfikir
Merefleksikan diri
Darimanapun
Bahkan dari penggalan sebuah lagu.

Maka Ayah,
Perkenankan putrimu menanyai hal ini padamu
Tentang 8 bulan yang engkau lewati bersama Ibu dan Kakak saat aku belum terlahir Tentang 19 tahun yang kita lewati bersama.

Ayah,
Apakah pernah terfikir olehmu dimana studi sarjana akan ku ambil saat dulu?
Apakah engkau ternyata sudah punya rencana?
Dan mengalah demi aku?
Maka, maafkan putrimu Ayah.

Ayah,
Menyesalkah dengan pilihan jurusanku yang sepenuhnya egoku?
Apakah engkau mengganggap kuliahku akan sia-sia?
Dan aku memang begitu keras untuk hal ini
Maka, m…

Untuk Putriku Kelak

Sedang apa kamu nak?
Menawar sisa alkoholmu semalam dengan sekaleng susu?
Jika iya, kamu bukan putri yang aku tunggui selama ini
Sejak tulisan ini masih bayang-bayang
Saat belum ada orang yang ku lihat sebagai masa depanku, sebagai ayahmu

"Ibu jahat"
Jangan berkata demikian, nak
Aku tidak sedang menggagungkan diriku
Namun usiaku telah lebih daripadamu
Telingaku telah mendengar hal-hal buruk yang membuat enggan tuk mendengar
Mataku telah menyaksikan keburukan yang timbul dan siapapun tak ingin melihat
Dan kamu berniat menyentuh salah satu dari keburukan itu?

Nak,
Jangan pergi tanpa pamit atau menipu Ibu dengan berbagai alasan
Hal yang menurutku tidak baik untukmu, memang tak selalu tepat bagimu
Tapi saat kamu membaca tulisan ini tolong pikirkan satu hal
Aku menunggu 20 bahkan 30 tahun untuk menemuimu
Dan kamu ingin suatu malam aku menjumpaimu mengendap-endap masuk rumah sepulang dari bar?
Aku akan berpuluh-puluh kali terkaget-kaget karenamu
Memikirkan apa yang salah dalam did…

Berkaca dari Seorang Teman

Image
Beberapa menit lalu, saya hanya terpaku menyaksikan seorang teman dalam sebuah video kegiatan yang sempat saya ingin ikuti.
Kemudian saya sadar, ada wajah yang tidak asing, begitu saya kenal, dan saya menyadari siapa dia, seorang teman.
Ingatan saya kembali ke beberapa bulan belakang ketika saya bicara padanya tentang apa yang sempat saya ingini.
Namun saya dirundung kegagalan dan sempat berkata "coba kamu".
Saya tak tahu apa yang dilakukannya setelah itu.
Namun melihat video tersebut saya tersadar (lagi) bahwa dia mencobanya dan dia berhasil.
Saya terdiam, saat ini harusnya saya sedang menuju sebuah kafe untuk mengerjakan tugas dengan teman saya, tapi saya rela menunda untuk menulis saat ini, sesegera mungkin ketika saya benar-benar menyadari, ada iri di hati.
Tidak ada rasa bangga padanya, namun ada rasa kecewa yang besar dalam diri saya, mengapa dia bisa dan saya tidak?
Mengapa saya gagal dan dia berhasil?
Saya tidak hendak menanyainya.
Saya tidak hendak berguru padanya.