Berkaca dari Seorang Teman

Beberapa menit lalu, saya hanya terpaku menyaksikan seorang teman dalam sebuah video kegiatan yang sempat saya ingin ikuti.
Kemudian saya sadar, ada wajah yang tidak asing, begitu saya kenal, dan saya menyadari siapa dia, seorang teman.
Ingatan saya kembali ke beberapa bulan belakang ketika saya bicara padanya tentang apa yang sempat saya ingini.
Namun saya dirundung kegagalan dan sempat berkata "coba kamu".
Saya tak tahu apa yang dilakukannya setelah itu.
Namun melihat video tersebut saya tersadar (lagi) bahwa dia mencobanya dan dia berhasil.
Saya terdiam, saat ini harusnya saya sedang menuju sebuah kafe untuk mengerjakan tugas dengan teman saya, tapi saya rela menunda untuk menulis saat ini, sesegera mungkin ketika saya benar-benar menyadari, ada iri di hati.
Tidak ada rasa bangga padanya, namun ada rasa kecewa yang besar dalam diri saya, mengapa dia bisa dan saya tidak?
Mengapa saya gagal dan dia berhasil?
Saya tidak hendak menanyainya.
Saya tidak hendak berguru padanya.
Malu.
Sudah terlanjur.
Yang saya lakukan sekarang adalah duduk di kafe (tempat seharusnya), dan mulai mengerjakan tugas.
Karena satu yang saya percaya, kegagalan bersumber dari diri saya, dan saya tidak ingin ada kegagalan yang lain.
Hari ini saya telah berkaca, berkaca dari seorang teman.



Untukmu, ku ucapkan selamat apapun yang kau kerjakan disana.
Salam dari penulis yang sedang mecoba meraih mimpi-mimpinya yang lain.
Aku tidak apa-apa, aku sedang tersenyum, ini buktinya :)

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak