Travel of Hope "Perjalanan Asa Adik-adik Kami"

Sabtuku terasa berbeda, aku terbangun untuk menuju kampus, tapi bukan untuk kuliah, bukan untuk disodori kertas-kertas ujian yang membuat penat, bukan pula untuk mendiskusikan tugas yang menggunung. Aku melepas semuanya. Aku terlalu bersemangat untuk hal yang lain.
Ketika tiba di danau UI, pertemuan dengan beberapa pihak dari yayasan gerakan nasional orang tua asuh (G-NOTA), semakin memperjelas bayanganku tentang "Travel of Hope", tentang menjadi kakak asuh sehari, menemani adik-adik. Adik-adik adalah murid SD Karang Tengah 01, Bogor dari kelas 4, 5 dan 6. Mereka tiba berseragamkan putih merah khas anak SD, dengan wajah-wajah lugu yang menatap sekitarnya dengan pandangan penuh arti.
Hari ini kami akan melukis pundi-pundi, celengan berbentuk pinguin/doraemon yang terbuat dari keramik. Ketika seorang panitia yayasan bertanya "Kalian sudah pernah melukis?". Kemudian kau tau? tidak ada satupun dari mereka yang menunjuk tangan atau mengiyakan pertanyaan tersebut. SAMA SEKALI.
Aku masih bertanya-tanya, di usia kesepuluh, kesebelas dan keduabelas umur mereka, belum pernah sekalipun mereka merasakan bahagianya melukis?
Aku memposisikan diri dan duduk berdekatan dengan dua orang anak perempuan, satu memperkenalkan dirinya dengan nama Maulin, dan satu lainnya bernama Aliyah, dua-duanya kelas 5 SD.
Maulin anak yang pemalu, berbeda dengan Aliyah yang meskipun masih tampak malu-malu, sering mengajakku bicara, awalnya hanya biacara semacam "Kak, tolong bukain pewarna biru muda sama tua", "Aku suka biru". Kemudian, barulah suasan menghangat ketika dia bertanya "Kakak kuliah disini (UI)?". Sementara Maulin, mengajakku bicara tentang asal daerah, ternyata diapun berasal dari Jawa Tengah dan baru pindah ke Bogor saat kelas 1 SD.
Setelah waktu bergulir, percakapan dengan Aliyah berlanjut, "Kamu senang nggak diajak kesini?"
"Nggak sebenernya"
"Kok gitu?"
"Gak pernah keluar-keluar"
Oh, aku pikir dia asing dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian ia melanjutkan,
"Temenku ada yang mundur"
"Kenapa?"
"Gak dibolehin sama Ibunya"
Aku berhenti untuk berfikir sejenak disini.
Seusia mereka, aku telah dibebaskan oleh orangtuaku untuk mengikuti semua kegiatan sekolah. Yang jadi pikiranku adalah, "Memang apa salahnya anak-anak ini keluar dari lingkungan sekolah - rumah - kampung?" Bukankah membosankan? Bukankah monoton?
Usia mereka adalah momentum tertepat untuk membiarkannya mengeksplorasi hal-hal baru, menemukan minat bakatnya.
Ah, lagi-lagi tidak semua orangtua berpikiran terbuka, aku tak dapat menyalahkan stigma mereka bahwa rumah adalah tempat teraman.
Belum selesai mewarnai pundi miliknya, Aliyah bertanya apakah boleh ia memasukkan uang kertasnya sekarang, aku membatin "anak ini begitu bersemangat dan antusias, Aliyah bercerita bahwa ia memang terbiasa menabung. Aku tersenyum.
Singkat cerita setelah melukis kami memainkan mini games dimana Aliyah satu kelompok denganku sementara Maulin berpisah kelompok. Sepanjang permainan tanganku di genggamnya, dirangkulkannya di lehernya, aku semakin berbinar.
Namun tiba saat dimana perpisahan datang, aku pamit dan berpesan padanya agar bersekolah sungguh-sungguh. Aliyah berpamitan, menyalami dan mencium punggung tanganku dengan sopan, lalu aku tak tahan untuk tidak memeluknya, segera ia menyambut pelukanku dan mengecup pipi kiriku. Rasanya, aku tidak ingi berpisah dengan sorot matanya, dengan tangan mungilnya. Namun apa daya, jemputan baginya telah tiba, dan satu lambaian sebelum mobil berbelok, adalah kali terakhir aku melihatnya.
Aliyah, Maulin, semoga kalian tumbuh menjadi anak yang cerdas ya!


---

Aku sangat ingin berterimakasih pada Yayasan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh yang telah menyadarkanku - dari cerita pengalaman mereka maupun realita tadi pagi, bahwa di Kabupaten Bogor, yang sangat dekat dengan Ibukota, peradaban dan segala kemajuan, masih terdapat sorot mata yang keheranan melihat gedung pencakar langit, tidak tau apa itu Monas, dan tidak pernah merasakan bagaimana memainkan kuas sebelumnya. Travel of Hope bukan sekedar tentang menjadi kakak asuh, namun sebuah perjalanan hati bahwa mimpi, harap dan asa adik-adik dapat kita wujudkan melalui rasa peduli, mari berbagi :)

Salam,
 
Vita, Salah satu pemilik tangan yang mengasuh adik-adik:
Sahabat GNOTA - Travel of Hope

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak