Posts

Showing posts from December, 2016

Langit Butuh Awan dan Matahari

Kepada mereka, Dhita dan Ira...
Tulisan ini hendak memeluk erat mereka melebihi pelukan perpisahan kemarin
Tulisan ini akan menjadi cerminan kebaikan mereka, bukan karena aku ingin meninggikan mereka, tapi aku ingin setiap kebaikan itu tidak pernah luput terlupakan olehku, seperti kataku, egois kalau kita tidak mau menulis, egois kalau kita berusaha mengingat sementara kita tahu, tak akan banyak yang diingat selain garis-garis besar yang bagaimanapun terancam dimakan waktu pula.

Teruntuk Dhita, Ira
Kalian adalah perwujudan pertolongan yang Allah kirimkan untukku.
Kalian adalah perwakilan dari rasa sayang, kepedulian, ketegasan yang membaur jadi satu.
Jikalau aku langit, Dhita adalah gumpalan awan yang menurunkan hujan, tampak gelap namun penuh kebermanfaatan. Maka Ira lah mataharinya, yang terbit, timbul, berapi-api, tak jarang tenggelam. Kalian adalah perpaduan yang akan menjadikan pelangi nampak di langit, warna-warni di diriku.

Terimakasihku untuk setiap ketulusan kalian yang menja…

Ayah dan Resiko yang Diambilnya

Ayah, barusan engkau menelpon Menceritakan alasanmu baru menghubungiku Ternyata semua karena lembur Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, kemarin engkau bercerita Tentang bahasa asing yang sukar engkau pahami Dikala meeting dengan kolegamu Dan engkau memintaku mengajarimu Akupun menghela napas panjang, Yah Pendidikanku yang berada diatas pendidikanmu adalah bukti Kerelaanmu menyempitkan mimpimu Demi meluaskan mimpi anak-anakmu Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, kemarin engkau bercerita Tentang tagihan yang ada di depan mata Bagaimana biaya pendidikan dan kesehatanku menuntutmu Namun engkau menghibur keresahanku dengan berkata “Itu tanggung jawab Ayah, Nak” Aku jadi malu Semua karena aku ya, Yah?
Ayah, usiamu empat puluh sembilan Masih berkelut dengan terik Dibawah kerangka bangunan dua belas lantai Aku jadi malu Semua resikomu karena aku ya, Yah?
***
Penutup: Teruntuk Ayah terbaikku, Segera tuntaskan pekerjaanmu Segera pula bangun perusahaan konsultan dibawah naungan namamu Agar ilmumu yang membua…

Ibu dan Kerinduanku

Image
Masih dalam suasana hari Ibu Teriring kerinduan teramat mengingini dekapan Ibu Tentang aku, di sudut kamarku Dan Ibu, di ujung jauh
***
Assalamualaikum Ibu... Bu, maukah engkau mendengar kisahku? Kisah tentang seorang anak rantau di peraduannya?
Jadi begini, Bu... Aku baru saja pulang selepas makan malam dengan temanku Dan aku ingin bertanya? Sudahkah perutmu terisi makanan layaknya aku yang kenyang dengan makananku? Sudahkah peluh lelahmu bekerja seharian hilang? Barangkali, untuk menyeka keringatmu saja engkau lupa, Bu Aku jadi tak enak hati...
Aku baru memulai mengerjakan tugas ditemani temanku, Bu Sementara engkau sudah menuntaskan tugas dan kewajibanmu Namun masih ditagih permintaan rewel adik-adik ya? Dan aku ingin bertanya, Seberapa kokoh kesabaranmu, Bu? Orang bilang tanda sabarmu habis adalah kemarahanmu Namun amarahmu tak pernah bertahan sampai hitungan jam Bu Maka secepat apa kesabaran itu kembali? Apakah pondasi milikmu sebegitu kuat? Ajari aku, Bu...
Aku baru saja usai menarik uang dari rekeningk…

Biarkan Aku dan Jalanku yang Luas Membentang

Sebelum tulisan ini dibuat, barangkali sudah ada yang pernah mendengar kalimat serupa terlontar dariku. But hey! Mengapa tidak aku curahkan saja disini agar meskipun pertanyaan serupa tak bisa ku bendung, setidaknya aku bisa mengarahkan orang-orang dengan pertanyaan serupa agar membaca tulisan ini saja, barangkali berkenan...

Beberapa waktu terakhir banyak orang yang mempetanyakan "mengapa kamu tidak cuti?". Dan aku akan selalu membuka jawaban dengan berkata bahwa aku tidak menerima konsep cuti. Konsep cuti? Ya, cuti ini bisa diartikan istirahat, break atau cuti sebagimana "libur'" untuk jangka waktu yang lama. Paham?

Teruntuk kalian yang menanyakan hal ini, sayang ingatlah, orangtuaku, orangtuamu, diriku atau dirimu di kala sakit tentu ingin untuk sembuh, lalu melakukan pengobatan dengan susah payah, merelakan waktu, materi dan pekerjaan seharusnya terbelangkalai, setelah itu berharap sehat lagi, agar apa? bukankah agar dapat kembali menjalankan rutinitasnya? …

Fisipers adalah Kita

Aku tidak lebih dari debu halus dibanding potensi-potensi besar yang berderet dalam jajaran kepengurusan.
Aku tidak lebih dari orang yang menumpang untuk belajar dan berharap, berharap bahwa aku dapat tumbuh dan berproses di dalamnya.
Teruntuk Fisipers UI, rumahku selama dua tahun, tempatku menemukan teman-teman yang selalu aku ucap "Alhamdulillah" atas kehadirannya.
Terimakasih banyak untuk pembelajaran yang sangat mewah yang bisa aku dapatkan darimu dan orang-orang dibelakangmu.
Terimakasih untuk nikmat kebersamaan, meskipun banyak yang masih menganggapnya kurang disana sini, namun sudah terasa begitu menyentuhku.
Aku senang menutup dua tahun bersamamu.
Terimakasih untuk kesempatan merasa memiliki keluarga.
Hal yang paling berharga adalah, ketika begitu banyak orang dengan berbagai pemikiran, kecerdasan, melebur jadi satu dan saling berbagi.
Maafkan aku yang jauh dari sempurna, jauh dari batas kontribusi yang seharusnya, jauh dari perkataan baik dan umpatan di belakangmu (…

Kerinduan untuk 2 Tahun yang Berlalu

Pagi ini aku menolak untuk tidak menulis. Ada hari kemarin dimana banyak hal yang terlalu manis, terlalu egois bila disimpan dalam memori yang serba terbatas.

Kemarin aku menangis menulis sepucuk surat ringkas untuk seorang teman yang telah menjadi tempatku tumbuh dan berproses. Perkenalkan, Okta Riani yang entah bagaimana dipertemukan denganku di divisi yang sama dalam sebuah organisasi, selama 2 tahun.

Okta adalah orang yang membuatku menerima walau aku tidak mendapat posisi yang aku inginkan.
Okta adalah orang yang membuatku bertahan dengan pilihan yang dipilihkan orang lain.
Okta adalah orang yang mengubah keterpaksaanku di tahun pertama, menjadi keinginan untuk "pulang" ke rumah yang sama di tahun kedua.

Dia tidak pernah menjadi Okta yang sendiri, dia bekerja atas nama beberapa nama, termasuk aku.
Dia tidak pernah mencari pembuktian bahwa dialah yang selalu bekerja.
Dia membuatku sungkan untuk tiap ketidakhadiran dan keabsenanku dalam membantu.
Dia mengerjakan hal-hal y…

Kalimat Tamparan yang Menohok

Bayangkan disuatu pagi yang cerah. Tetanggamu datang dan membawakanmu makanan. Senang? Bagus. Bayangkan lagi makanan yang diberikan kamu sia-siakan. Bagaimana bila kamu menjadi tetangga itu? Kecewa, betul? Bagus.
Maka tulisan ini, akan menjadi jawaban dari pengandaian diatas. Tulisan ini akan bercerita seberapa menohoknya kalimat saat dengan jujur diungkapkan.
Saat orang yang peduli denganmu kamu sia-siakan dan pada akhirnya mereka berbalik, tidak lagi sama. Aku dan kamu barangkali akan tertampar. Kita lihat saja.

Suatu siang sebuah pesan mendarat. Berjarak 400 kilometer lebih, ada kalimat menanyakan kabar, lalu disambut jawaban sederhana. Maka kemudian, perbincangan dimulai.
Teman-teman, perkenalkan seorang teman yang saya kenal sepanjang waktu saya memulai dunia perkuliahan hingga tiba di titik ini.
Teruntuk Teteh Sofi Isnaeni Haqi.
Kutipan berikut adalah nasihat terbaik yang bisa aku dapatkan dari orang sekitarku, bersumber dari tutur katamu yang terungkapkan melalui tulisan
"…

Kepadamu, Akankah Masih?

Image
Logikanya, harusnya kita saling mengenal jauh sebelum ini. Namun Allah mempertemukan kita tanpa aku dapat memprotes rasa terlambat itu.
Teruntuk Raveena Fiarani, aku sempat kelu dan berniat tidak melanjutkan tulisan ini karena setahuku ada orang-orang yang tidak nyaman ketika orang lain menyampaikan sesuatu dengan cara seperti ini. Tetapi, seperti keteguhan yang sering aku ungkapkan, inilah caraku mengapresiasi dan berterimakasih untuk setahun yang terlewati.

Assalamualaikum Veena,
Saat menulis ini, aku sedang di rumahku dan kamu di rumahmu yang sudah tentu berjarak ratusan kilometer dariku. Kalau ditanya mengapa tulisan pertama terpikirkan untukmu? Sesederhana karena kamu yang aku ingat dan aku syukuri keberadaannya beberapa hari ini, diluar dari keluargaku.

Aku telah menyampaikan kesanku, bahwa "coba kalau tidak ada Veena ya, aku pasti kacau". Sekali lagi hal itu benar adanya.

Pertama,
Setelah semester 4 berlalu dan aku menghilang begitu saja, aku merasa menjadi orang yang…

Sebuah Pengantar

Assalamualaikum.
Tulisan ini dibuat tepat pukul 23:30. Sepulang dari rawat inap di Rumah Sakit. Saat jalan masih belum tegap. Saat buka mulut terasa bagai cari mati, karena pasti mual.
Tulisan ini adalah pengantar tulisan-tulisan berikutnya. Agar tidak ada yang bertanya, mengapa harus menulis?
Saya sendiri adalah orang yang sangat  senang menumpahkan kebahagiaan, rasa syukur, terharu, terkesima dengan cara menulis, terlepas dari akan dibaca atau tidaknya oleh orang-orang bersangkutan yang terkait. Saya merasa bahwa apresiasi adalah hal yang penting, hal yang meskipun kadang masih dianggap "untuk apa" namun punya pengaruh yang luar biasa karena kehidupan melibatkan banyak orang, kehidupan butuh orang-orang yang punya sisi positif dalam memandang lingkunganya. Semesta lebih menyukai orang-orang yang mendewasakan pemikirannya dengan bersyukur, berterimakasih atas keberadaan orang-orang terkasih. Inti dari tulisan berikut ini adalah bentuk apresiasi saya, rasa syukur saya dan te…