Biarkan Aku dan Jalanku yang Luas Membentang

Sebelum tulisan ini dibuat, barangkali sudah ada yang pernah mendengar kalimat serupa terlontar dariku. But hey! Mengapa tidak aku curahkan saja disini agar meskipun pertanyaan serupa tak bisa ku bendung, setidaknya aku bisa mengarahkan orang-orang dengan pertanyaan serupa agar membaca tulisan ini saja, barangkali berkenan...

Beberapa waktu terakhir banyak orang yang mempetanyakan "mengapa kamu tidak cuti?". Dan aku akan selalu membuka jawaban dengan berkata bahwa aku tidak menerima konsep cuti. Konsep cuti? Ya, cuti ini bisa diartikan istirahat, break atau cuti sebagimana "libur'" untuk jangka waktu yang lama. Paham?

Teruntuk kalian yang menanyakan hal ini, sayang ingatlah, orangtuaku, orangtuamu, diriku atau dirimu di kala sakit tentu ingin untuk sembuh, lalu melakukan pengobatan dengan susah payah, merelakan waktu, materi dan pekerjaan seharusnya terbelangkalai, setelah itu berharap sehat lagi, agar apa? bukankah agar dapat kembali menjalankan rutinitasnya? Agar tidak ada perasaan sungkan melihat atau mendengar orang lain mengerjakan kewajiban yang seharusnya milik kita, agar kita tak pernah benar-benar merasa melepas tanggung jawab bukan?
Maka sayang, ketahuilah, aku dan orangtuakupun memandang demikian hal tersebut, konsep kami adalah menyembuhkan sakit yang dialami untuk kemudian kembali ke keseharian. Jikalau dirimu bekerja, maka kembali ke tempat kerja, sementara aku yang sedang kuliah, kembali ke bangku perkuliahan. Aku akan sangat sedih pabila usaha penyembuhan tersebut malah berujung dengan kekangan untuk melanjutkan kehdiupan.

Untuk menutup tulisan ini, coba bayangkan suatu petang ada burung dengan sayap terluka yang terkulai di halaman depan rumahmu, maka kakekmu menolong menyembuhkan luka burung tersebut, burung itu memang harus beristirahat, tapi ketika sudah pulih, akankah kamu terus mengurungnya? atas dasar apa? Kelewat khawatir kalau burung itu terluka lagi? Sayang, sudah takdirnya bahwa burung tersebut harus dilepas di alam bebas, harus terbang menyongsong fajar, tak peduli akan terik dan hujan. Ingatlah untuk tidak memaksakan. Karena yang terbaik tidak pernah kita tau yang mana, tapi Tuhanmu, Tuhanku telah mengatur segalanya. Layaknya burung tersebut, biarkan aku dan jalanku yang masih luas membentang ya? Tolong...

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak