Kepadamu, Akankah Masih?

Logikanya, harusnya kita saling mengenal jauh sebelum ini. Namun Allah mempertemukan kita tanpa aku dapat memprotes rasa terlambat itu.
Teruntuk Raveena Fiarani, aku sempat kelu dan berniat tidak melanjutkan tulisan ini karena setahuku ada orang-orang yang tidak nyaman ketika orang lain menyampaikan sesuatu dengan cara seperti ini. Tetapi, seperti keteguhan yang sering aku ungkapkan, inilah caraku mengapresiasi dan berterimakasih untuk setahun yang terlewati.

Assalamualaikum Veena,
Saat menulis ini, aku sedang di rumahku dan kamu di rumahmu yang sudah tentu berjarak ratusan kilometer dariku. Kalau ditanya mengapa tulisan pertama terpikirkan untukmu? Sesederhana karena kamu yang aku ingat dan aku syukuri keberadaannya beberapa hari ini, diluar dari keluargaku.

Aku telah menyampaikan kesanku, bahwa "coba kalau tidak ada Veena ya, aku pasti kacau". Sekali lagi hal itu benar adanya.

Pertama,
Setelah semester 4 berlalu dan aku menghilang begitu saja, aku merasa menjadi orang yang akan sangat canggung menemuimu di semester 5. Aku akan jadi orang yang malu menyapamu bahkan sekedar untuk bertegur sapa. Alhamdulillah, Allah maha baik, aku tidak perlu mundur untuk mengingat awal lunturnya rasa canggung itu, selain tentang hari Jumat di sebuah koridor kampus.

Aku ingin mempercepat waktu lagi. Saat kamu mengiyakan ajakan untuk terlibat dalam kepanitiaan yang sering dianggap sebelah mata. Dan untuk itu, beribu terimakasih. Aku benar-benar berhutang bantuanmu yang sangat ternilai. Aku membatin, dunia perlu orang-orang inisiatif sepertimu yang mampu bekerja dengan tulus, totalitas dan emosi yang naik turun dengan wajar. Bertolak dengan aku yang tipikal "mudah mencari keributan".

Aku akan mempercepat waktu hingga bagian ini menjadi part terbaik yang bisa aku ingat tentangmu.
Agar orang tahu, Veena adalah orang baik yang kepeduliaannya tidak perlu dipertanyakan, meskipun caranya dalam menyampaikan tidak selamanya aku benarkan. Aku merasa bagai anak kecil nakal di hadapannya yang pabila berbuat salah akan di cubit dan akupun berteriak. Aku yang memang buruk dalam pola makan terlalu sering dimarahi olehnya dengan penegasan bahwa "walau tidak lapar, makanlah untuk hidup". Hal ini amat berbeda denganku yang menganggap bahwa "makan ketika lapar, meskipun tengah malam waktunya". Tidak sekali dua kali aku ditemaninya makan meskipun waktu menjelang dini hari, meskipun lelah tidak dapat dipungkiri. Oh Allah, aku tahu aku salah dan untuk menambal kesalahan itu, seorang teman menyadarkanku dari luput, dari sifat zalimku yang tidak mengasihani diri sendiri, ternyata aku belum seutuhnya menyayangi diri ini.

Aku lanjutkan tulisan ini,
Aku menyadari bahwa aku sedang tidak baik minggu-minggu ini dan aku sebegitu lalainya untuk memperhatikan. Veena yang pulang malam bersamaku harus menemui masa dimana aku terhuyung lalu ambruk, tanpa peduli tempat dan waktu. Untuk hal itu, aku minta maaf. Veena harus berkali menanyakan ketika gelagatku telah berubah dengan pertanyaan " kenapa Vit?" atau sejenisnya. Dan aku selalu mengulang kata yang sama "aku tidak apa-apa" dan aku tahu itu tidak membuatnya tenang.

Teruntuk Veena, aku minta maaf atas tanganmu yang harus mencekramku dengan lebih kuat ketika aku hampir terjatuh, untuk tangan yang sama yang mengangkatku saat aku hanya mampu bersimpuh beralasakan tanah pijakan kita. Dan lagi-lagi aku minta maaf untuk tangan yang aku tarik sedemikian kencang karena aku terlalu takut tanpa pegangan.
Teruntuk kebaikan yang tidak mengenal lelah itu, aku berterimakasih lebih dari yang bisa aku sampaikan.

Veena, untuk keras kepala yang sering tidak bisa kamu tolerir dariku, aku minta maaf, dan aku tidak bisa menjanjikan perubahan berarti karena selayaknya manusia aku hanyalah mereka yang penuh janji namun belum tentu baik dalam implementasi. Aku masih sangat sering mengabaikan peringatanmu tentang pentingnya memeriksakan diri, bahkan aku terlalu jahat karena membohongimu dan mengatakannya. Maafkan di suatu malam dimana kamu melihatku dalam keadaan terburukku aku masih dengan keinginanku yang salah. Aku telah merepotkan dan membuatmu jauh berkorban untukku. Mengorbankan waktu, materi, tenaga hingga tidur nyenyakmu yang pasti berharga disaat kuliah sedang tidak bersahabat.

Terimakasih Veena, untuk dorongan agar aku pulang dan memikirkan kesehatanku. Terimakasih untuk ajakanmu untukku menginap di kosmu ketika gerbang kosku telah terkunci meskipun berakhir dengan penolakanku bahkan saat Gojek telah kamu pesankan. Terimakasih untuk kesabaran yang jauh lebih besar dari yang bisa dilihat.

Semoga Allah melindungimu selalu dan menempatkan orang-orang terbaik di sekelilingmu. Semoga kelak anak-anak kita dapat berteman dan anakmu mewarisi kebaikanmu sehingga anakku dapat belajar layaknya aku belajar darimu. Semangat menebar manfaat, semoga berbalik pahala yang menghantar ke surga firdaus. Insyaallah.
Assalamualaikum, Veena.
Vita,
01:00



Comments

Popular Posts