Langit Butuh Awan dan Matahari

Kepada mereka, Dhita dan Ira...
Tulisan ini hendak memeluk erat mereka melebihi pelukan perpisahan kemarin
Tulisan ini akan menjadi cerminan kebaikan mereka, bukan karena aku ingin meninggikan mereka, tapi aku ingin setiap kebaikan itu tidak pernah luput terlupakan olehku, seperti kataku, egois kalau kita tidak mau menulis, egois kalau kita berusaha mengingat sementara kita tahu, tak akan banyak yang diingat selain garis-garis besar yang bagaimanapun terancam dimakan waktu pula.

Teruntuk Dhita, Ira
Kalian adalah perwujudan pertolongan yang Allah kirimkan untukku.
Kalian adalah perwakilan dari rasa sayang, kepedulian, ketegasan yang membaur jadi satu.
Jikalau aku langit, Dhita adalah gumpalan awan yang menurunkan hujan, tampak gelap namun penuh kebermanfaatan. Maka Ira lah mataharinya, yang terbit, timbul, berapi-api, tak jarang tenggelam. Kalian adalah perpaduan yang akan menjadikan pelangi nampak di langit, warna-warni di diriku.

Terimakasihku untuk setiap ketulusan kalian yang menjadikanku topik pembicaraan. Hehe
Terimakasihku untuk kepanikan yang terwujud disetiap uluran kalian saat aku terjatuh, walaupun tak tahu tempat dan waktu. Hehe
Terimakasihku untuk candaan yang kadang ku batin sedemikian kerasnya karena begitu asam. Hehe
Karena tanpa kalian, bisa jadi aku hanya langit mendung, langit gelap atau bahkan langit yang terlalu terik.

Comments

Popular posts from this blog

Berbagi Pengalaman (Magang): Apa itu Digital Marketing dan Apa Saja Tugasnya?

Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Untuk Putriku Kelak