Posts

Showing posts from 2017

Semesta Bekerja?

Dua hari lalu, berlatar hujan, sendu ditengah rintik yang menderas, ada yang menangisi kehidupan.
Bertanya bagaimana semesta bekerja dan membiarkannya merasa jatuh diantara pengharapan?
Seminggu lalu, ia menangis juga, dengan alasan lain, kerinduan yang membuatnya iri dengan sekitar.
Lagi-lagi bertanya bagaimana semesta bekerja dan menjadikan diri semakin sepi di tengah kesepian?
Mengapa semesta tak mengajarinya berbahagia dalam sedihnya? Kata orang "ambil hikmahnya".
Mengapa semesta membiarkannya menangisi dua hal yang berpola sama? Kata orang "harus terima".
Maka semesta, surat ini hendak menanyaimu,
Namun tak akan pernah menyalahkanmu.

A Playlist To Remember (1)

Image
Here's your kinda Sunday-(too) morning-playlist.
Glenn Fredley - Terserah

Tangga - Cinta Begini

Rossa - Tegar

Broery Marantika Ft. Dwi Yull - Jangan Ada Dusta Diantara Kita

Chrisye - Kala Cinta Menggoda

Reza Artamevia - Biar Menjadi Kenangan

Rio Febrian - Bukan Untukku

Yovie & Nuno Ft. Audy - Janji Diatas Ingkar


Geisha - Seandainya Aku Punya Sayap

Indonesian Voices - Rumah Kita


Separuh Perjalanan Dikuatkan - Betapa Berartinya Sebuah Surat

Image
Setengah tahun lalu ketika aku sempat memutuskan untuk menghentikan langkah,
Satu surat mengubah.

Surat itu, mengucapkan terima kasih atas kerja kerasku,
Tapi aku bertanya-tanya,
Kerja keras apa sementara aku kurang dimana-mana.

Surat itu meminta maaf,
Atas anggapan telah menyusahkan,
Membuat kesal,
Atau karena tidak pernah mengerti,
Dan apabila demikian,
Maka aku telah lama memaafkannya.

Surat itu berbicara,
Jauh lebih dalam dari apa yang penulisnya sering sampaikan secara langsung,
Bagaimanapun,
Kata-katanya merubah dunia,
Dan mengantarkanku pada separuh perjalanan.

Kalau tidak dikuatkan,
Barangkali sejak tuntutan-tuntutan diluar harap,
Dan dibalik suara-suara sumbang memekakkan telinga,
Mungkin,
Aku,
Memilih,
Menyerah.

Maka, untuk membalas surat dibawah ini,
Terima kasih!


Sajak Tiga Bait - Langit Masih Angkuh

Derai itu harusnya luruh tak peduli waktu
Sambil bercerita tentang dingin
Tapi ia masih enggan
Maka mundurlah
Dan tunggu

Tetesannya riuh namun berangsur menghilang
Sesekali tertimbun suara yang lebih gaduh
Mungkin ia masih menimbang
Maka mundurlah
Dan tunggu

Sorotnya gelap dan ia terdiam
Karena dalam keangkuhannya
Ia seperti langit di musim penghujan
Sesekali hujan, mendung,
Dan yang pasti, ia tak pernah hangat

Selamat Datang April

Kepada; April
Dari bermacam-macam emosi yang benar-benar menguras hati,
Kekecewaan mengawali, membuka dan menjadikanmu tak semenarik sebelumnya,
Aku baru menyadari,
Semakin bertambahnya usia,
Semakin banyak pula pandangan yang melihat dari sisi buruk saja,
Melupakan kebaikan, yang bagaimanapun susah payah diupayakan,
Ya, ini keluhan
Ya, ini mewakilkan rasa tidak terima
Belajar, berharap berproses dan tumbuh,
Ternyata tidak semudah itu,
Karena akan ada suara yang tetap menyalahkan,
Akan tetap ada anggapan yang tidak sepantasnya.
Maka, April...
Izinkan aku belajar merelakan,
Tidak semua orang menyukai apa yang aku tempuh
Tidak semua orang akan mengapresiasi usahaku
Aku
Belajar
Meluruskan niat
Dan menerima

Kepada April,
Semoga celaannya selaras dengan usahanya memperbaiki diri
Semoga dia dan penglihatannya
Tak selamanya buram dan penuh kabut kebencian



-Ditulis setelah seorang teman mengisahkan pendengarannya tentangku, dari seseorang, kepadaku.

Ujung Bulan Maret; Besok!

Besok, 31 Maret.
Besok, ujung perjalanan bulan Maret.
Sementara Maret menepi,
April siapkan layar terkembang.

Besok, adikku berulang tahun.
Besok, genap usianya 13 tahun.
Sepenggal doa ini,
Biarlah tersurat untuk dirinya.

Untuk Adikku, Lintang.
Selamat ulang tahun, sayang.
Terimakasih 13 tahun ini telah menyabarkan hati untuk menerima aku sebagai kakakmu.

Untuk tahun-tahun kedepan,
Semoga...
Hidupmu berbalut kebahagiaan
Rizki yang tercukupkan tanpa putus
Pencapaian yang menbanggakan untuk dirimu sendiri, dan untuk kami keluargamu

Mungkin kami kurang dalam mendengar inginmu,
Namun Allah Maha Tahu
Semoga harapmu terkabul
Impianmu tercapai

Aku, sebagai kakakmu,
Akan selalu ada untuk membimbingmu,
Sekaligus mendorongmu untuk maju.
Sayangku selalu untukmu!



- Mba Vita

Tentang Sebuah Buku; Pada Tepi Hari Itu - Soorjo Sani S.

Image
Aku ingin menjemput awan
Tempat dulu ku selipkan perangaimu
Saat hujan tiba dapat kusentuh tangismu, tawamu
Akan kubungkus awan itu dengan rindu
Yang engkau endapkan pada hujan

- Kurindukan -

Mas Soorjo (Karena bagi saya, tidak ada yang 'tua' dalam sastra. Bahkan dirimu juga diriku menyebut Chairil Anwar tanpa awalan Mas, atau Pak), menuangkan tulisannya dengan apiknya sehingga bagi saya yang membaca tulisannya, saya dapat mengontruksikan maksud yang hendak disampaikan tanpa menawar. Mas Soorjo seperti hendak menceritakan kerinduan yang teramat hingga dirinya rela datang menjemput awan, awan yang menyelipkan wajah sosok yang dirindukan. Ia menggambarkan hujan menjadi sebuah keinginan, dan akupun bisa merasakan penantiannya terhadap hujan, agar hujan itu dapat mengingatkannya pada tawa dan tangis sosok yang dirindukannya. Semoga kerinduanmu terbayar, Mas. Terimakasih, tulisanmu memaknai hujanku pagi tadi.

Sebelum Maret Berakhir

Maret yang akan berakhir
Telah mempersiapkan perpisahan

Maret yang segera pergi
Mempersilahkan April untuk menyambut

Sementara April bergegas
Apa renungan Maretmu?

Apakah Maret bagimu terlalu panjang?
Atau begitu singkat?
Teruntuk waktu yang berlalu,
Sudahkah kamu bersyukur untuk nafas yang masih berhembus?

Apa yang membahagiakanmu?
Apa yang menyudutkanmu?
Apa yang menyita pikirmu?
Teruntuk mereka yang telah meninggalkan jejaknya,
Sudahkah kamu berterimakasih?

Kepada April, mendekatlah
Buyarkan batas pergantian bulan
Agar aku masih mengingat mimpi yang baru terpikirkan di Maret
Agar tidak ada pembenaran atas sudah-ganti-bulan-resolusi-berganti-pula
Aku
Masih
Mau
Belajar
Dan
Melanjutkan

Kepak-ku, Kepak-mu Harusnya Lebih Membentang

Sayap,
Kepadamulah aku percayakan mimpi-mimpi itu naik lalu ditangkap langit
Agar saat aku membaringkan diri diantara rerumputan tanah
Yang ku lihat adalah mimpiku sendiri
Agar saat aku menerawang jauh
Yang ku ingat adalah harapku sendiri

Sayap, Apa yang mengendurkan semangatmu mengudara? Apa yang membuat bentanganmu tak melebar? Apakah kamu takut terjatuh? Apakah debum kerasnya tanah membayangimu?
Sayap, Seharusnya, kepakmu lebih membentang...

Berbincang Dengan Semesta

Aku ingin berbaring diantara rerumputan, menyibak tetes-tetes bekas hujan turun yang basah dan lembab.
Aku ingin belajar menerima, bahwa tempatku, tak hanya sesempit kamar dan ruangan serba kecil lainnya.

Aku ingin membiarkan semilir itu berhembus, tidak peduli bagaimana setiap ruas-ruas jemari menggigil sebab dingin.  Aku ingin belajar mengerti, bahwa tak selamanya hangat dan nyaman-lah yang kuterima.
Aku ingin menghitung bintang yang berkedip, walau sesekali hitunganku buyar dan terpaksa menghitung lagi. Aku ingin belajar merelakan, untuk mencoba sekali, dua kali dan berkali-kali walau semua karena kesalahan sendiri.
Aku ingin membiarkan malam larut dan tak berusaha menghentikannya. Aku ingin belajar memahami, bahwa kuasa diri ini tak seberapa.
Aku ingin terlelap bernaungkan langit, sampai matahari terbit. Aku ingin belajar menerima gelap, kemudian menyambut terang datang.
Malam dimana semua inginku terlaksana, Akan menjadi waktuku untuk berbincang dengan semesta.

Sepotong Percakapan Bernaung Musholla

Turun dari tangga,
Temanku menyapa,
Kemudian,
Haha hihi mengalir menjadi percakapan

"Sibuk apa sekarang?"
"Masih sama, tapi aku dapat tawaran pekerjaan baru"
"Wah jadi apa?"
"Ada, tapi belum tahu mau diambil tidak, aku belum izin orang tua"
"Izin. Aku adalah orang yang percaya bahwa urusanku (dan barangkali) urusanmu, akan lancar ketika Ibu merestui"
Dan membatin
 "Aku akan menelfon Ibu nanti malam"

Ditulis selang sehari dari perjumpaan dibawah tangga Musholla dengan Syifa Andini.

Sepotong Lirik yang Terngiang (3)

Whenever you reach for me I'll do all that I can We're heading for something
Somewhere I've never been
Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn
Of the power of love - The Power of Love, Celine Dion Karena terkadang, kita menghadapi sesuatu yang asing, tempat baru, dan rasa takut yang mengikuti. Yang tersisa, kesiapan kita untuk belajar, untuk percaya pada kekuatan bersama, ketika saling membutuhkan, aku, dan segenap diriku, akan melakukan apapun.
Semacam janji untuk siapapun nanti...

Sepenggal Kisah dari Brebes

Image

Untuk Veena

Teruntuk kebaikan yang jauh melebihi apa yang bisa diharapkan,

Aku hendak bertanya,
Ibumu bukan Ibuku
Pun darah yang mengalir di dirimu hanya sewarna namun tidak sama denganku
Tapi mengapa kebaikanmu menggununung?
Sampai aku merasa seberapapun usahaku mengejar untuk membalas semuanya,
Aku masihlah berada di lereng dan engkau di puncak sana.

Aku masih hendak bertanya,
Kalau kekuranganku belum membuatmu pergi
Apakah ini yang layak disebut kesabaranmu?
Sampai aku merasa seberapapun aku bersalah dan marah,
Suaramu masih terdengar rendah
Walaupun aku makin meninggi

Aku belum selesai bertanya,
Terbuat dari apa setiamu?
Setiamu dalam mengingatkan walau separuhnya tidak ku jalankan,
Setiamu dalam menemani walau banyak yang ku maki

Aku hendak menutup pertanyaan,
Dengan pernyataan,
Pantas sekelilingmu begitu menyukaimu
Karena hadirmu layak disyukuri
Pantas semesta mengagumimu
Karena milikmu banyak yang dapat dibagi

Aku tetap ingin dibersamai
Maka, jadikan ini janji?
Bahwa terus akan ada cerita …

Barangkali...

Aku baru berfikir sembari berlatarkan hujan.
Barangkali, kehidupanku saat ini, yang sering aku keluhkan, yang sering aku bandingkan, adalah kehidupan yang diharapkan oleh orang lain. Ada orang-orang yang menghitung hari karena waktunya sempit. Ada yang bahkan belum melihat pagi tapi sudah dipanggil. Sepantasnya aku berterimakasih.
Barangkali, mereka yang tidak punya rumah mendambakan rumah tak seberapa milikku, tapi setidaknya aku memiliki tempat bernaung. Sehingga aku terhindar dari panas dan hujan. Sehingga aku tidur dengan nyenyak. Sepantasnya aku bersyukur.
Barangkali, kampus tempatku kuliah yang tidak ku jalani dengan maksimal, adalah kampus yang ditangisi orang-orang yang gagal mendapatkannya, juga ditangisi mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap bangku kuliah karena keterbatasan. Sepantasnya aku berubah.
Barangkali, makanan yang aku sia-siakan, aku acuhkan hanya karena selera semata, adalah makanan yang diingini oleh orang lain diluar sana, yang ba…

Kapan Merasa Cukup?

Temanku memperlihatkanku apa yang selama ini terbayang olehku sebagai hidup yang sempurna.
Betapapun aku bertanya,
Tuhan
Apa yang menjadikan langkahnya (tampak) ringan?
Apa yang membawa orang-orang memandangnya sebagai kesempurnaan?
Apa yang menyelebungi hatinya sampai keburukan tak pernah nampak?
Apa yang membuatnya menawan tak sekedar dari rupa?
Apa yang menjadikannya sebagai dirinya sekarang?
Tuhan
Kata orang tak boleh iri
Apalagi dengki
Salutku jangan tertutupi
Apalagi hingga memaki

Sepenggal Kisah Menuju Brebes

Assalamualaikum tahun 2017. Tulisan ini ditulis sembari bis melaju mengantarku menuju Brebes. Kabupaten dimana Gerakan UI Mengajar akan menyumbangsihkan kontribusi dan dedikasinya. Kabupaten dimana pengabdian menjadi alasan utama segala minat akan liburan dipendam dalam-dalam.
Ini soal perjalanan hati. Tentang bagaimana merelakan tidurku tak dinaungi oleh rumah semestinya. Tentang wajah-wajah asing yang akan lebih menyita perhatian ketimbang siluet rindu akan keluarga. Tentang bagaimana langkah kecil diharapkan jadi berarti. Tulisan ini penghantar wujud semangatku menghadapi dua puluh sekian hari ke depan. Semoga Allah membersamai niat ini menjadi sebuah pelajaran mewah yang akan sangat mahal untukku kelak. Semoga!