Sepenggal Kisah dari Brebes


Pengabdian, barangkali kata inilah yang menjadi alasan utama segala minat akan liburan dipendam dalam-dalam. Bayangan akan Brebes, Kabupaten dimana Gerakan UI Mengajar akan menyumbangsihkan kontribusi dan dedikasinya, begitu dinanti-nanti wajah-wajah penuh harap, berharap bahwa kesempatan kali ini akan menjadi sebuah pelajaran mewah yang sangat mahal untuk kami kelak. Ini soal perjalanan hati. Tentang bagaimana merelakan tidur tak dinaungi oleh rumah semestinya. Tentang wajah-wajah asing yang akan lebih menyita perhatian ketimbang siluet rindu akan keluarga. Tentang bagaimana langkah kecil diharapkan jadi berarti.
Aku hanya bagian kecil dari Gerakan UI Mengajar, yang menumpang untuk belajar dari “25 menginspirasi”, aku bukan siapa-siapa, dan aku belum menjadi apa-apa. Aku hanya merasakan 10 hari, aku bukan pengajar yang menebar kebermanfaatan mendidik anak-anak SDN Kemiriamba, aku bukan panitia yang mati-matian berlelahan demi mewujudkan rumah pelangi atau perpustakaan sekolah. Aku hanya tau, apapun yang bisa ku bantu selama disana, itulah yang akan aku lakukan.
            Bila pagi datang, aku akan sama terbangunnya dengan teman panitia yang lain, lebih rajin dari biasanya. Menyongsong hari, dimulai dari niat setiap pagi. Sekian hari, aku pun tersadar, bahwa GUIM bukan sekedar soal pendidikan, tidak melulu tentang mengajar. 25 hari adalah waktu yang singkat untuk mengubah sesuatu, maka yang terbaik adalah meninggalkan sesuatu. Bukan hanya kesan semata, namun bagimana caranya kami harus bisa meninggalkan kebaikan bagi SD, murid, desa dan warganya.
Posyandu adalah pembelajaran pertamaku, aku percaya, ibu dan ayah dari calon penerus bangsa asal Brebes masih memedulikan kesehatan anak-anaknya, mereka membawa putra-putrinya untuk ditimbang, diberi vitamin, dan dicatat perkembangan fisiknya. Ah, aku bisa apa kecuali membantu mengukur lingkar kepala dan tinggi badan. Selebihnya, aku berifikir, “apa ini layak menjadi bantuan?”. Sekali membantu, tentu belum cukup.
Pembelajaran berikutnya, masih berupa posyandu, satu-satunya yang cukup membekas adalah pengalaman mendokumentasikan kelas ibu hamil sesuai permintaan bidan desa. Tapi, itupun hanya bantuan tenaga, masih belum apa-apa. Aku mulai menanyai diri sendiri, apa yang akan membuat SD, murid, warga dan desanya akan mengingat kami?
Pembelajaran berikutnya, adalah pelatihan ibu-ibu PKK sebagaimana permintaan ibu lurah. Tiba di hari bertemu dengan ibu-ibu PKK, melihat beberapa teman berhasil mempresentasikan ide-ide kerajinan, aku pun lega. Namun, masih membatin apa yang aku beri untuk kali ini? Sementara prosesnya saja, aku hanya bagian kecil.
Setelah hari berganti, dan tiba waktu untuk pergi, aku baru mengerti. Ketika muncul rasa berat hati, ternyata SD, murid, desa dan warganya telah meninggalkan jejak yang tak rela untuk ditinggalkan begitu saja. Aku iri, melihat mereka yang tersisa dan bertahan. Pembelajaran yang sesungguhnya adalah, ketika berada di rumah panitia namun begitu melebur dengan warga. Warga yang hangat, warga yang baru kami kenal namun membantu kami, memberi kami, memedulikan kami, layaknya keluarga sendiri. Aku rindu bagaimana kami berkunjung ke rumah tetangga dan dijamu dengan amat baiknya. Aku rindu bertandang ke rumah pengajar dimana orangtua asuh mereka teratamat sayang dengan anggota “baru” keluarganya. Yang dengan rela menyisihkan makanan dari milik mereka yang tidak seberapa, yang rela mengantar ke kamar mandi, kala malam membuat takut seorang pengajar untuk sekedar buang air kecil. Pembelajaran tentang ketulusan, tentang berbagi walau belum memiliki lebih, ternyata yang terpenting adalah merasa cukup dan berterimakasih.
Pembelajaran lain, adalah tentang menebar kebahagiaan. Membiarkan anak-anak dan gurunya melupakan perkara sekolah yang terancam ditutup karena kekurangan siswa, membiarkan anak-anak berdatangan ke rumah unuk belajar dan bermain bersama, menghadirkan jalan-jalan sederhana bagi mereka. Yang utama, bukan soal kemana perginya, tapi soal membahagiakan mereka, karena ternyata, kebahagiaan mereka akan menular cepat ke kita. Artinya, membahagiakan adalah perwujudan berbagi, tapi akan kembali. Kebahagiaan yang dihadirkan, barangkali singkat, namun akan jadi berarti ketika hari demi hari dicari kebahagiaan baru lagi. Aku percaya, teman-temanku disana berusaha setiap hari, berkali-kali.
Yang terakhir, pembelajaran tentang kebersamaan. Teman-temanku mengajariku tentang apa arti sebenarnya dari kebersamaan. Sama-sama menerima keadaan yang serba sederhana, sama-sama menerima segala lelah, sama-sama menerima bahwa merelakan tidak bertemu keluarga, terbayar dengan keakraban, kekeluargaan yang pantas disebut saudara.
Terimakasih untuk kalian semua, terimakasih semesta…








Comments

Popular Posts