Posts

Showing posts from March, 2017

Ujung Bulan Maret; Besok!

Besok, 31 Maret.
Besok, ujung perjalanan bulan Maret.
Sementara Maret menepi,
April siapkan layar terkembang.

Besok, adikku berulang tahun.
Besok, genap usianya 13 tahun.
Sepenggal doa ini,
Biarlah tersurat untuk dirinya.

Untuk Adikku, Lintang.
Selamat ulang tahun, sayang.
Terimakasih 13 tahun ini telah menyabarkan hati untuk menerima aku sebagai kakakmu.

Untuk tahun-tahun kedepan,
Semoga...
Hidupmu berbalut kebahagiaan
Rizki yang tercukupkan tanpa putus
Pencapaian yang menbanggakan untuk dirimu sendiri, dan untuk kami keluargamu

Mungkin kami kurang dalam mendengar inginmu,
Namun Allah Maha Tahu
Semoga harapmu terkabul
Impianmu tercapai

Aku, sebagai kakakmu,
Akan selalu ada untuk membimbingmu,
Sekaligus mendorongmu untuk maju.
Sayangku selalu untukmu!



- Mba Vita

Tentang Sebuah Buku; Pada Tepi Hari Itu - Soorjo Sani S.

Image
Aku ingin menjemput awan
Tempat dulu ku selipkan perangaimu
Saat hujan tiba dapat kusentuh tangismu, tawamu
Akan kubungkus awan itu dengan rindu
Yang engkau endapkan pada hujan

- Kurindukan -

Mas Soorjo (Karena bagi saya, tidak ada yang 'tua' dalam sastra. Bahkan dirimu juga diriku menyebut Chairil Anwar tanpa awalan Mas, atau Pak), menuangkan tulisannya dengan apiknya sehingga bagi saya yang membaca tulisannya, saya dapat mengontruksikan maksud yang hendak disampaikan tanpa menawar. Mas Soorjo seperti hendak menceritakan kerinduan yang teramat hingga dirinya rela datang menjemput awan, awan yang menyelipkan wajah sosok yang dirindukan. Ia menggambarkan hujan menjadi sebuah keinginan, dan akupun bisa merasakan penantiannya terhadap hujan, agar hujan itu dapat mengingatkannya pada tawa dan tangis sosok yang dirindukannya. Semoga kerinduanmu terbayar, Mas. Terimakasih, tulisanmu memaknai hujanku pagi tadi.

Sebelum Maret Berakhir

Maret yang akan berakhir
Telah mempersiapkan perpisahan

Maret yang segera pergi
Mempersilahkan April untuk menyambut

Sementara April bergegas
Apa renungan Maretmu?

Apakah Maret bagimu terlalu panjang?
Atau begitu singkat?
Teruntuk waktu yang berlalu,
Sudahkah kamu bersyukur untuk nafas yang masih berhembus?

Apa yang membahagiakanmu?
Apa yang menyudutkanmu?
Apa yang menyita pikirmu?
Teruntuk mereka yang telah meninggalkan jejaknya,
Sudahkah kamu berterimakasih?

Kepada April, mendekatlah
Buyarkan batas pergantian bulan
Agar aku masih mengingat mimpi yang baru terpikirkan di Maret
Agar tidak ada pembenaran atas sudah-ganti-bulan-resolusi-berganti-pula
Aku
Masih
Mau
Belajar
Dan
Melanjutkan

Kepak-ku, Kepak-mu Harusnya Lebih Membentang

Sayap,
Kepadamulah aku percayakan mimpi-mimpi itu naik lalu ditangkap langit
Agar saat aku membaringkan diri diantara rerumputan tanah
Yang ku lihat adalah mimpiku sendiri
Agar saat aku menerawang jauh
Yang ku ingat adalah harapku sendiri

Sayap, Apa yang mengendurkan semangatmu mengudara? Apa yang membuat bentanganmu tak melebar? Apakah kamu takut terjatuh? Apakah debum kerasnya tanah membayangimu?
Sayap, Seharusnya, kepakmu lebih membentang...

Berbincang Dengan Semesta

Aku ingin berbaring diantara rerumputan, menyibak tetes-tetes bekas hujan turun yang basah dan lembab.
Aku ingin belajar menerima, bahwa tempatku, tak hanya sesempit kamar dan ruangan serba kecil lainnya.

Aku ingin membiarkan semilir itu berhembus, tidak peduli bagaimana setiap ruas-ruas jemari menggigil sebab dingin.  Aku ingin belajar mengerti, bahwa tak selamanya hangat dan nyaman-lah yang kuterima.
Aku ingin menghitung bintang yang berkedip, walau sesekali hitunganku buyar dan terpaksa menghitung lagi. Aku ingin belajar merelakan, untuk mencoba sekali, dua kali dan berkali-kali walau semua karena kesalahan sendiri.
Aku ingin membiarkan malam larut dan tak berusaha menghentikannya. Aku ingin belajar memahami, bahwa kuasa diri ini tak seberapa.
Aku ingin terlelap bernaungkan langit, sampai matahari terbit. Aku ingin belajar menerima gelap, kemudian menyambut terang datang.
Malam dimana semua inginku terlaksana, Akan menjadi waktuku untuk berbincang dengan semesta.

Sepotong Percakapan Bernaung Musholla

Turun dari tangga,
Temanku menyapa,
Kemudian,
Haha hihi mengalir menjadi percakapan

"Sibuk apa sekarang?"
"Masih sama, tapi aku dapat tawaran pekerjaan baru"
"Wah jadi apa?"
"Ada, tapi belum tahu mau diambil tidak, aku belum izin orang tua"
"Izin. Aku adalah orang yang percaya bahwa urusanku (dan barangkali) urusanmu, akan lancar ketika Ibu merestui"
Dan membatin
 "Aku akan menelfon Ibu nanti malam"

Ditulis selang sehari dari perjumpaan dibawah tangga Musholla dengan Syifa Andini.