Review Fillm The Doll 2 - Film Horror Indonesia

Kemarin, saya bersama dua teman saya menonton The Doll 2 di XXI Plaza Kalibata, Jakarta Selatan.
Cukup dengan kocek 35.000 saja, maklum weekday. Film dimulai jam 19:15. Meskipun film Indonesia dan sedang bersaing dengan Film Holywood seperti Dunkirk, surprisingly deretan bangku-bangku yang menjulang tinggi hampir terisi penuh.

The Doll 2 baru rilis tanggal 20 Juli kemarin, menyusul Film The Doll yang rilis pada tahu 2016 lalu. Film ini berdurasi 1 jam 56 menit. Cukup panjang, bila dibandingkan durasi film Horror Danur yang juga rilis beberapa bulan lalu.
Film ini diperankan oleh Herjunot Ali yang berperan sebagai Aldo dan Luna Maya sebagai Maira, keduanya adalah pasutri yang perlu waktu cukup lama untuk dapat memiliki anak. Hingga lahirlah Kayla yang diperankan oleh Shofia Shireen. Benang merah yang menghubungkan seri pertama dengan seri kedua film ini adalah peran Sara Wijayanto. Sara Wijayanto yang berperan sebagai Laras kembali membantu kasus kerasukan pada boneka yang pernah terjadi pada The Doll series pertama, perbedaannya, bila The Doll menampakkan boneka Ghawiyah, The Doll 2 menampilkan boneka Sabrina yang secara penampilan memang lebih seram dengan wujud mata besar , baju putih dan berambut panjang. Namun, hal ini pulalah yang menjadi kritik, karena Maira memberikan boneka Sabrina sebagai hadiah untuk Kayla, bagaimana bisa seorang Ibu menghadiahkan boneka seram untuk anaknya? Namun, akan lebih aneh lagi jika boneka yang digunakan dalam film horror adalah boneka lucu dengan bentuk yang menggemaskan. Jadi katakanlah bahwa pemilihan boneka Sabrina merupakan win-win solution.

Film ini diawali dengan cuplikan film sebelumnya yang dari awal sudah menampakkan adegan berdarah-darah. Ditengah usaha Laras membantu menyelamatkan anak keluarga Shandy Aulia dan Denny Sumargo, nyatanya hantu penunggu boneka Ghawiyah sangat berhasrat ingin membunuh, bahkan anak dan pembantu keluarga Laras juga menjadi korban.
Mulai memasuki Film The Doll 2 yang sebenarnya, film mengisahkan tentang ikatan yang kuat antara Maira dan Kayla. Hingga suatu malam, saat Aldo, Maira dan Kayla sedang melakukan perjalanan, mobil yang mereka kendarai mengalami rem blong dan tertabrak sebanyak dua kali. Kayla tewas dalam musibah tersebut. Maira yang sangat dekat dengan Kayla sangat terpukul dengan kehilangan yang dialaminya.

Keanehan-keanehan mulai muncul dan dialami Maira secara bertubi-tubi. Seolah ia merasakan bahwa Kayla belum benar-benar pergi dari dunia. Layaknya film horror lain, ditengah kejadian mistis yang dialami oleh salah satu pemain, pemain lainnya akan cenderung tidak mempercayai apa yang terjadi dan mengganggapnya sebagai halusinasi semata.
Ditengah usaha mendatangkan psikolog, kejadian mistis semakin menjadi-jadi. Kemudian dimulailah klimaks film dimana teror-teror melalui boneka Sabrina yang dirasuki arwah Kayla mulai berlangsung. Menandakan ada urusan Kayla yang belum tuntas di dunia.
Klimaks film terlalu banyak diisi dengan adegan usaha pembunuhan. Yang sesekali membuat berpikir "Kok pemainnya nggak mati-mati ya?", terasa tidak masuk akal dengan sebegitu berkali-kalinya terjadi penusukan, terjatuh dari ketinggian, namun nyatanya semua pemain tetap selamat hingga diakhir.
Pada akhirnya, ketakutan terbesar di film ini adalah adegan berdarah yang cukup mengerikan. Film ini masih belum mampu membekaskan ketakutan akan sosok hantu Kayla, maupun boneka Sabrina. Sejauh penilaian saya pribadi, film ini tetap layak ditonton. 7.5/10.

Simak trailernya:

Comments

Popular Posts